INDOZONE.ID - Di dalam ruang sidang, di ruang kuliah hukum, hingga dalam orasi-orasi demonstrasi, kita sering mendengar sebuah kalimat sakral: “Equality before the law.”
Namun, di tengah realitas sosial masyarakat yang sering kali menyaksikan fenomena hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, asas ini kerap dianggap sekadar untaian kata indah tanpa makna nyata di atas kertas konstitusi. Banyak masyarakat yang menjadi sinis dan mempertanyakan keadilan yang sejati.
Sebagai ulasan edukatif dan upaya untuk meningkatkan literasi hukum, artikel ini akan mendemistifikasi pengertian sebenarnya dari asas fundamental equality before the law agar masyarakat dapat memahaminya secara presisi dan objektif.
Baca juga: Arti Penting Hukum dalam Mewujudkan Keadilan, Ternyata Ini Fungsi Sebenarnya!
Secara konstitusional, equality before the law bermakna asas persamaan di hadapan hukum. Esensi paling lugas dari asas ini adalah bahwa setiap warga negara, tanpa memandang status sosial, jabatan, latar belakang etnis, agama, maupun jumlah kekayaan yang dimilikinya, memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sepenuhnya setara di mata peradilan dan hukum yang berlaku.
Mari kita bedah tiga pilar utama yang melandasi asas fundamental ini:
Baca juga: Batas Wilayah Indonesia Diatur oleh Apa? Simak Dasar Hukum dan Aturannya
Di Indonesia, asas ini bukan sekadar teori impor. Negara kita secara tegas mengunci prinsip ini di dalam hukum tertinggi kita, yaitu Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 27 ayat (1), yang berbunyi:
"Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya."
Kalimat "dengan tidak ada kecualinya" adalah penegasan taktis bahwa konstitusi kita melarang adanya diskriminasi hukum.
Siapa pun yang melanggar hukum harus mempertanggungjawabkannya, dan siapa pun yang mencari keadilan berhak untuk didengarkan.
Mendemistifikasi asas ini juga berarti kita harus berani melihat celah antara teks hukum dan realitas di lapangan. Mengapa masyarakat sering merasa asas ini tidak berjalan?
Penyebab utamanya sering kali bukan karena hukumnya yang salah, melainkan karena adanya ketimpangan dalam akses terhadap bantuan hukum.
Orang dengan kemampuan finansial tinggi mampu menyewa tim penasihat hukum (advokat) terbaik untuk membelanya secara taktis di pengadilan. Sementara itu, masyarakat kurang mampu sering kali mengalami keterbatasan informasi dan akses untuk mendapatkan pembelaan yang setara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: J-innovative.org