Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 12 JUNI 2026 • 15:25 WIB

Jangkar Perdamaian Global: Kilas Balik Pasukan Garuda dan Diplomasi Indonesia!

Jangkar Perdamaian Global: Kilas Balik Pasukan Garuda dan Diplomasi Indonesia!Ilustrasi diplomasi. (Dok. ChatGPT)

INDOZONE.ID - Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia bukan sekadar untuk kepentingan internal bangsa, melainkan sebuah misi suci untuk dunia. 

Dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, para pendiri bangsa telah mengamanatkan sebuah tugas patriotik yang agung: “...ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

Di panggung geopolitik internasional, amanat konstitusi ini diwujudkan secara nyata melalui prinsip Politik Luar Negeri Bebas Aktif. Indonesia menolak menjadi penonton pasif di tengah persaingan kekuatan besar dan secara konsisten bertindak sebagai arsitek serta jangkar perdamaian global.

Mari kita bedah secara edukatif dan strategis jejak emas diplomasi Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.

Baca juga: Bukan Bangsa Penonton! Bagaimana Pasukan Garuda dan Diplomasi Indonesia Mewarnai Sejarah PBB

1. Doktrin Bebas Aktif sebagai Kompas Diplomasi Indonesia

Lahir di tengah kecamuk Perang Dingin pada tahun 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mencetuskan sebuah gagasan brilian yang dikenal dengan istilah “mendayung di antara dua karang”. Doktrin inilah yang mendasari politik luar negeri kita:

  • Bebas: Indonesia tidak terikat dan tidak mau memihak pada blok-blok kekuatan dunia yang saling bersaing (seperti Blok Barat dan Blok Timur kala itu).
  • Aktif: Indonesia tidak memilih jalur netralitas yang pasif atau mengisolasi diri. Sebaliknya, Indonesia aktif mengupayakan penyelesaian konflik, meredam ketegangan global, dan mendukung kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah.

2. Inisiator Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955

Sebagai salah satu negara yang baru merdeka, Indonesia mengambil langkah berani dengan menginisiasi dan menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika di Bandung pada April 1955.

  • Langkah Strategis: Di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Indonesia menyatukan visi 29 negara Asia dan Afrika untuk menentang segala bentuk kolonialisme dan imperialisme modern.
  • Dampak Global: Pertemuan bersejarah ini menghasilkan Dasasila Bandung, sebuah piagam kemanusiaan dan kedaulatan yang berhasil menyulut gelombang dekolonisasi di seluruh dunia (khususnya di benua Afrika) serta menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Non-Blok (GNB).

Baca juga: Kuliah Geopolitik: Membedah Cetak Biru Diplomasi Indonesia sebagai Arsitek Gerakan Non-Blok!

3. Kontingen Garuda

Komitmen patriotik Indonesia tidak hanya menggema di meja diplomasi, tetapi juga diwujudkan secara konkret melalui pengiriman darah dan keringat prajurit terbaik kita ke wilayah konflik paling berbahaya di bumi melalui Pasukan Garuda (Kontingen Garuda/Konga) di bawah bendera PBB.

  • Rekam Jejak: Kiprah ini dimulai sejak tahun 1957 dengan pengiriman Konga I ke Mesir untuk meredam Krisis Suez. Hingga dekade ini, puluhan ribu personel TNI dan Polri telah dikirim ke berbagai belahan dunia seperti Lebanon, Kongo, Afrika Tengah, hingga Mali.
  • Keunggulan Taktis (Cultural Approach): Pasukan Garuda sangat disegani di dunia internasional karena memiliki keunikan khusus, yaitu pendekatan humanis dan budaya. Prajurit Indonesia dikenal sangat ramah, mudah berbaur dengan masyarakat lokal, menghormati adat setempat, serta aktif membantu pembangunan infrastruktur sipil, sehingga kehadiran mereka selalu diterima dengan tangan terbuka oleh warga lokal di area konflik.

4. Jangkar Stabilitas di ASEAN dan Vokal di Forum PBB

Di level regional dan internasional, Indonesia menempatkan dirinya sebagai kekuatan penengah yang dihormati:

  • Pemimpin Alami ASEAN: Sebagai salah satu negara pendiri ASEAN (1967), Indonesia bertindak sebagai jangkar stabilitas di Asia Tenggara. Indonesia mengedepankan diplomasi damai tanpa intervensi militer, seperti saat memfasilitasi Jakarta Informal Meetings (JIM) pada akhir 1980-an yang berhasil mengakhiri konflik berdarah berkepanjangan di Kamboja.
  • Suara Lantang di PBB: Kepercayaan dunia internasional terbukti dari beberapa kali terpilihnya Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Di forum tertinggi ini, Indonesia selalu konsisten menyuarakan isu kemanusiaan, menjembatani dialog antar-negara berkembang, serta berdiri di garis depan dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Mempelajari peran internasional Indonesia harus menumbuhkan rasa bangga yang luar biasa di dalam dada kita sebagai warga negara.

Kita adalah bangsa yang lahir dari perjuangan melawan penindasan, dan hal itu membentuk DNA politik luar negeri kita untuk selalu membela mereka yang tertindas.

Prinsip bebas aktif bukan berarti kita lemah atau tidak punya pendirian, melainkan lambang kemandirian berpikir dan keberanian bertindak. 

Mulai dari ruang sidang PBB hingga pos-pos penjagaan Pasukan Garuda di perbatasan konflik, Indonesia telah dan akan selalu menjadi mercusuar perdamaian di tengah badai geopolitik dunia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Jangkar Perdamaian Global: Kilas Balik Pasukan Garuda dan Diplomasi Indonesia!

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!