INDOZONE.ID - Kelompok Hizbullah menuduh militer Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah insiden penembakan yang terjadi di wilayah Lebanon selatan pada Selasa (23/6/2026).
Menurut kelompok yang didukung Iran tersebut, pasukan Israel menembaki sekelompok warga sipil hingga menyebabkan dua orang tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.
Dalam pernyataannya, Hizbullah mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan penghentian konflik yang telah berlaku antara kedua pihak.
Meski demikian, kelompok itu belum memberikan indikasi apakah akan melakukan aksi balasan atas kejadian tersebut.
Baca juga: Paus Leo XIV: Perang AS-Israel vs Iran Bukan Perang yang Adil, Serukan Perang Dihentikan
Militer Israel membantah tuduhan bahwa mereka menyerang warga sipil. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa mereka mendeteksi keberadaan sekelompok orang bersenjata yang berada dekat dengan posisi pasukan mereka di Lebanon selatan.
Menurut keterangan resmi IDF, pasukan Israel melakukan serangan untuk menghilangkan ancaman yang dianggap membahayakan keselamatan tentara maupun warga Israel.
“Pasukan kami bertindak terhadap para teroris untuk menghilangkan ancaman yang ada,” demikian pernyataan IDF.
Militer Israel juga menegaskan akan terus melakukan operasi guna mencegah Hizbullah melakukan tindakan yang dapat membahayakan warga dan pasukan Israel.
Baca juga: Korban Tewas Serangan Israel di Lebanon Tembus 3.593 Orang, UNIFIL Kecam Target Personel Militer
Meskipun insiden tersebut terjadi, gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sejauh ini masih berlaku sejak disepakati pada Jumat pekan lalu.
Namun, Israel menyatakan pasukannya akan tetap berada di zona penyangga di wilayah Lebanon selama ancaman dari Hizbullah masih dianggap ada.
Keberadaan pasukan Israel di area tersebut menjadi salah satu isu yang terus memicu ketegangan, meski kedua pihak secara resmi masih berada dalam masa penghentian konflik.
Konflik yang melibatkan Israel dan Hizbullah juga memiliki dampak yang lebih luas terhadap situasi geopolitik Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com