Bangunan hancur oleh serangan Israel di Lebanon. (REUTERS/Stringer)
INDOZONE.ID - Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon terus bertambah. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sebanyak 3.593 orang meninggal dunia dan 10.990 lainnya mengalami luka-luka sejak 2 Maret.
Dalam laporan terbaru yang dirilis Sabtu (6/6/2026), Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan dalam 24 jam terakhir terdapat 67 korban tewas dan 257 korban luka akibat serangan yang terjadi di berbagai wilayah.
Di hari yang sama, kantor berita NNA melaporkan seorang jenderal Angkatan Bersenjata Lebanon bersama sopirnya tewas setelah kendaraan yang mereka tumpangi menjadi sasaran serangan di wilayah Lebanon selatan.
Insiden tersebut memicu kecaman dari Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon atau UNIFIL. Dalam pernyataannya di media sosial X, UNIFIL menyampaikan belasungkawa kepada Angkatan Bersenjata Lebanon dan keluarga personel militer yang tewas dalam serangan di kawasan Nabatieh.
Baca juga: Israel Gempur Lebanon Selatan, 29 Orang Tewas Termasuk Perempuan dan Anak-Anak
"Serangan semacam itu di wilayah Lebanon merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan Lebanon, integritas teritorial, dan Resolusi Dewan Keamanan 1701," tulis UNIFIL.
Pernyataan itu disampaikan beberapa jam setelah otoritas Lebanon mengungkapkan bahwa serangan Israel terhadap kendaraan militer di selatan negara tersebut menewaskan dua perwira dan seorang prajurit.
Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon serta hukum internasional.
Senada dengan itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan terhadap Lebanon dan rakyatnya.
Baca juga: Donaldo Trump Sebut Israel dan Lebanon Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata Selama Tiga Pekan
Di sisi lain, militer Israel mengakui telah menargetkan kendaraan tersebut. Namun, pihak Israel menyatakan insiden itu masih dalam penyelidikan dan mengklaim kendaraan tersebut bergerak mencurigakan di dekat pasukan mereka di area yang disebut terdapat aktivitas Hizbullah.
Serangan terbaru itu terjadi meski gencatan senjata yang rapuh telah berlaku sejak April. Pemerintah Lebanon berulang kali menilai serangan Israel di wilayah selatan negara itu sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional, yang berpotensi menghambat upaya stabilisasi keamanan di kawasan perbatasan.
Situasi tersebut juga menjadi sorotan karena bertentangan dengan ketentuan United Nations Security Council Resolution 1701, yang mengakhiri perang antara Israel dan Hizbullah pada 2006, serta menyerukan penghentian permusuhan dan penghormatan terhadap kedaulatan Lebanon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA, Anadolu