INDOZONE.ID - Lebanon mendeklarasikan hari berkabung nasional setelah gelombang serangan Israel menewaskan sedikitnya 254 orang dalam satu hari. Lebih dari 1.165 orang lainnya juga dilaporkan terluka.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyatakan pemerintah telah mengerahkan seluruh sumber daya politik dan diplomatik untuk menghentikan serangan Israel. Serangan ini terjadi sehari setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut. Pernyataan ini diperkuat oleh Wakil Presiden AS JD Vance yang menyebut tidak pernah ada janji terkait penghentian serangan di Lebanon.
Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator, menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata seharusnya mencakup penghentian konflik di Lebanon. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan hal serupa dengan menyebut syarat tersebut sudah jelas.
Baca juga: 182 Tewas dalam Gelombang Besar Serangan Udara Israel ke Lebanon
Iran bahkan memperingatkan bahwa Amerika Serikat harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau menghadapi konflik berkelanjutan melalui Israel. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut penghentian serangan di Lebanon sebagai salah satu poin penting dalam rencana gencatan senjata yang diajukan Teheran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf turut mengkritik situasi ini. Ia menilai gencatan senjata dan negosiasi menjadi tidak relevan jika pelanggaran terus terjadi, termasuk serangan lanjutan di Lebanon dan aktivitas militer di wilayah Iran.
Di Washington, seorang pejabat AS menyatakan bahwa dokumen gencatan senjata 10 poin yang beredar di publik tidak sepenuhnya mencerminkan kesepakatan resmi Gedung Putih. Kondisi ini memicu kebingungan terkait isi sebenarnya dari kesepakatan tersebut.
Korban ledakan di Beirut Lebanon. (REUTERS/Mohamed Azakir)
Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi AS untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran di Pakistan pada Sabtu (11/4/2026). Namun, Iran sebelumnya menyatakan ketidakpercayaan terhadap perwakilan AS dalam negosiasi.
Sementara itu, Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, mengecam keras serangan Israel. Ia menyebut skala korban jiwa dan kehancuran di Lebanon sebagai sesuatu yang sangat mengerikan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mendorong agar Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata sebagai langkah menuju perdamaian. Dukungan serupa datang dari sejumlah negara Teluk seperti Oman dan Qatar yang mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
Baca juga: Israel Perluas Serangan, Infrastruktur Lebanon Lumpuh dan Warga Terisolasi
Di sisi lain, ketegangan juga meluas ke kawasan Teluk. Kuwait melaporkan kerusakan material pada fasilitas energi, sementara di Abu Dhabi terjadi kebakaran akibat puing serangan yang berhasil dicegat. Qatar juga dilaporkan menembak jatuh sejumlah rudal dan drone.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera.com