ILustrasi Israel bergabung dengan Board of Peace (freepik).
INDOZONE.ID - Kata "Zionis" atau "Zionisme" sering kali muncul dalam diskursus politik global dan pemberitaan media internasional.
Bagi sebagian orang, istilah ini kerap memicu perdebatan emosional, namun di sisi lain, akar sejarah dan definisi akademisnya sering kali kabur akibat narasi yang simpang siur.
Untuk memahaminya secara jernih, kita perlu menanggalkan bias politik kontemporer dan membedah istilah ini dari sudut pandang murni historis dan objektif.
Berikut adalah demistifikasi mengenai akar kata Zionis, tokoh pencetusnya, hingga bagaimana ideologi ini mewujud menjadi negara Israel modern.
Secara etimologis, kata "Zionis" berasal dari kata Zion (bahasa Ibrani: Tzion). Dalam literatur Alkitabiah kuno, Zion pada awalnya merupakan nama sebuah bukit batu di Yerusalem (Bukit Zion) yang menjadi lokasi berdirinya benteng kuno Yebus.
Seiring berjalannya waktu, makna "Zion" mengalami perluasan metaforis. Kata ini tidak lagi sekadar merujuk pada bukit fisik, melainkan menjadi simbol bagi:
Meskipun kerinduan terhadap "Zion" telah ada selama ribuan tahun dalam bentuk doa dan ritual keagamaan, Zionisme sebagai gerakan politik sekuler baru lahir pada akhir abad ke-19 di Eropa.
Pada masa itu, Eropa sedang dilanda gelombang nasionalisme modern. Di saat yang sama, sentimen anti-Yahudi (anti-Semitisme) dan persekusi rasial (pogrom) marak terjadi, khususnya di Eropa Timur dan Rusia.
Realitas ini memicu kesimpulan di kalangan intelektual Yahudi bahwa integrasi sosial di Eropa adalah hal yang mustahil. Satu-satunya jalan agar kaum Yahudi aman adalah dengan memiliki negara berdaulat sendiri.
Dengan demikian, secara objektif, Zionisme didefinisikan sebagai gerakan nasionalis modern yang bertujuan untuk mendirikan dan mendukung sebuah negara kepemilikan nasional bagi bangsa Yahudi di tanah air bersejarah mereka.
Meskipun istilah "Zionisme" pertama kali dicetuskan oleh jurnalis Austria bernama Nathan Birnbaum pada tahun 1890, sosok yang diakui sebagai Bapak Zionisme Politik Modern adalah Theodor Herzl (1860–1904).
Herzl adalah seorang jurnalis dan penulis drama Yahudi-Austria yang sekuler. Titik balik pemikiran Herzl terjadi saat ia meliput Dreyfus Affair di Prancis pada tahun 1894—sebuah skandal politik di mana seorang perwira militer Yahudi Prancis difitnah melakukan pengkhianatan akibat sentimen anti-Semitisme.
Pada tahun 1896, Herzl menerbitkan buku pamflet monumental berjudul Der Judenstaat (Negara Yahudi). Dalam buku ini, ia berargumen bahwa masalah Yahudi bukanlah masalah sosial atau agama, melainkan masalah politik nasional yang hanya bisa diselesaikan jika komunitas internasional memberikan wilayah berdaulat bagi bangsa Yahudi.
Herzl kemudian mengorganisasi Kongres Zionis Internasional Pertama di Basel, Swiss. Kongres ini mendirikan Organisasi Zionis Dunia (World Zionist Organization) dan merumuskan "Program Basel", yang secara resmi menetapkan tujuan gerakan: membangun rumah nasional bagi orang Yahudi di Palestina di bawah perlindungan hukum publik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan