Ilustrasi hukum. (Freepik/mehaniq)
INDOZONE.ID - Istilah "eksil politik" mungkin sering kita dengar dalam diskusi sejarah, berita internasional, atau kolom hukum. Namun, bagi masyarakat awam, istilah ini terkadang terasa asing, berat, atau terlalu teoretis.
Banyak yang menyamakannya begitu saja dengan istilah imigran atau turis biasa, padahal ada tragedi kemanusiaan dan dinamika kekuasaan yang mendalam di baliknya.
Sebagai ulasan edukatif untuk meningkatkan literasi sejarah dan politik, artikel ini akan mendemistifikasi istilah eksil politik secara lugas dan sederhana agar mudah dipahami.
Secara sederhana, eksil politik adalah kondisi di mana seseorang terpaksa meninggalkan, atau dilarang kembali ke tanah airnya karena alasan politik atau adanya ancaman keamanan yang nyata dari penguasa yang sedang memimpin.
Kata kunci dari eksil politik adalah "keterpaksaan" dan "politik". Berbeda dengan ekspatriat yang pindah negara untuk bekerja, atau turis yang pergi untuk liburan, seorang eksil politik tidak memiliki pilihan.
Jika mereka tetap bertahan di negaranya atau nekat pulang, mereka menghadapi risiko besar seperti penangkapan tanpa pengadilan, pemenjaraan, hingga ancaman keselamatan jiwa.
Baca juga: PM Polandia: Penembakan Seniman Rusia Pengkritik Putin Diduga Bermotif Politik
Untuk memudahkan pemahaman, sejarah Indonesia sebenarnya mencatat beberapa gelombang eksil politik yang sangat besar. Berikut adalah beberapa contohnya:
Jauh sebelum Indonesia merdeka, pemerintah kolonial Hindia Belanda sering kali menggunakan taktik pengasingan untuk membungkam para tokoh pergerakan yang vokal.
Contoh Nyata: Soekarno yang pernah diasingkan ke Ende dan Bengkulu, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir yang dibuang ke Boven Digoel (Papua) lalu dipindahkan ke Banda Neira.
Mereka adalah eksil politik di dalam wilayah negeri sendiri (internal exile) demi memutus hubungan mereka dengan basis massa perjuangan.
Ini sendiri merupakan salah satu contoh eksil politik luar negeri yang paling tragis dalam sejarah modern Indonesia.
Pada awal tahun 1960-an, Presiden Soekarno mengirim ribuan mahasiswa cerdas Indonesia ke luar negeri seperti ke Uni Soviet, China, dan Eropa Timur melalui program beasiswa Ikatan Dinas untuk belajar ilmu teknologi dan kedokteran demi membangun bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan