Ilustrasi militer AS di Selat Hormuz. (Dok. Gemini Ai)
INDOZONE.ID - Dalam peta catur politik global, ada wilayah yang ukurannya relatif kecil namun memiliki pengaruh yang mampu mengguncang ekonomi seluruh planet. Wilayah itu adalah Selat Hormuz.
Melalui operasi seperti "Project Freedom" atau inisiatif keamanan maritim multinasional lainnya, Amerika Serikat (AS) menempatkan diri sebagai "penjaga" jalur sempit ini.
Mengapa satu titik di Timur Tengah ini begitu krusial? Berikut adalah bedah strategisnya:
Baca juga: Prancis Tolak Ikut Operasi Militer AS di Selat Hormuz, Ini Kata Macron
Secara teknis, Selat Hormuz adalah jalur air yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Namun, keistimewaannya terletak pada keterbatasannya:
Di titik tersempitnya, selat ini hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer.
Namun, jalur pelayaran yang aman bagi kapal tanker raksasa jauh lebih sempit, yakni hanya jalur masuk dan keluar masing-masing selebar 3 kilometer, yang dipisahkan oleh zona penyangga selebar 3 kilometer.
Sekitar 21 juta barel minyak mengalir lewat sini setiap hari. Jika dikonversi, ini setara dengan hampir sepertiga dari total minyak yang diperdagangkan lewat jalur laut di seluruh dunia.
Baca juga: Donald Trump Tolak Proposal Iran, AS Pertahankan Blokade di Selat Hormuz
Meskipun ada pipa darat di Arab Saudi atau UEA, kapasitasnya tidak akan pernah cukup untuk menggantikan volume yang bisa diangkut oleh kapal tanker raksasa (VLCC) yang melewati selat ini.
Banyak yang bertanya, "Mengapa AS menghabiskan triliunan rupiah untuk menjaga perairan yang letaknya ribuan mil dari Washington?" Jawabannya bukan hanya soal kepemilikan minyak, tetapi soal Hegemoni dan Stabilitas Pasar.
Sejak era 1980-an, AS menganut prinsip bahwa upaya apa pun oleh kekuatan luar untuk menguasai kawasan Teluk Persia akan dianggap sebagai serangan terhadap kepentingan vital AS.
Hal ini berevolusi menjadi tanggung jawab untuk menjaga arus bebas perdagangan (Free Flow of Commerce).
Ekonomi global sangat sensitif terhadap gangguan pasokan. Jika terjadi blokade atau serangan terhadap tanker di Hormuz:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan