INDOZONE.ID - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa wabah Ebola yang sedang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) berkembang dengan sangat cepat.
Meski upaya penanganan terus ditingkatkan, penyebaran virus mematikan tersebut masih menjadi ancaman serius, terutama di wilayah timur laut negara itu.
Sejak wabah diumumkan secara resmi pada 15 Mei 2026, jumlah kasus terus meningkat. WHO mencatat hingga kini terdapat 896 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi, dengan 232 kematian. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir saja, tercatat 21 kasus baru.
Menurut WHO, wabah ini sebenarnya telah menyebar selama beberapa waktu sebelum akhirnya terdeteksi dan diumumkan kepada publik.
Baca juga: Thailand Terapkan Karantina 21 Hari bagi Pelancong dari Kongo dan Uganda Akibat Wabah Ebola
Varian Langka Ebola Jadi Tantangan Besar
Wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo, salah satu varian Ebola yang tergolong langka. Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus yang secara efektif menargetkan strain tersebut.
Marie-Roseline Belizaire, Kepala Darurat WHO untuk kawasan Afrika, mengatakan situasi wabah masih sangat serius dan berkembang dengan cepat dari hari ke hari.
Meski demikian, ia mengapresiasi peningkatan kapasitas respons yang dilakukan berbagai pihak. Menurutnya, tim kesehatan di lapangan terus memperkuat upaya pengendalian agar laju penyebaran virus dapat ditekan.
Baca juga: Wabah Campak di Bangladesh Tewaskan Lebih dari 500 Anak, Rumah Sakit Kewalahan
Provinsi Ituri Jadi Pusat Penyebaran
Lebih dari 90 persen kasus yang diketahui berasal dari Provinsi Ituri, wilayah yang selama ini juga menghadapi berbagai konflik bersenjata. Kota Bunia, ibu kota Ituri, menjadi pusat utama penanganan wabah.
Selain Ituri, penyebaran Ebola juga telah menjangkau Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan. Kondisi keamanan yang tidak stabil di sejumlah daerah menjadi salah satu faktor yang menyulitkan upaya penanganan penyakit tersebut.
Virus Ebola diketahui dapat menular melalui kontak erat dengan penderita maupun cairan tubuh yang terinfeksi. Karena itu, pelacakan kontak dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk menghentikan rantai penularan.
Kapasitas Penanganan Meningkat Signifikan
WHO menyebut berbagai fasilitas kesehatan telah meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi lonjakan pasien. Jika sebelumnya tidak tersedia tempat tidur khusus untuk penderita Ebola, kini kapasitasnya telah bertambah menjadi lebih dari 500 tempat tidur.
Selain itu, tim pengawasan epidemiologi kini mampu menangani hampir 400 laporan dugaan kasus setiap hari. Kapasitas pemeriksaan laboratorium juga meningkat hingga lebih dari 2.000 tes per hari.
Perkembangan ini dinilai sebagai kemajuan penting dalam upaya mengendalikan wabah yang terus meluas.
Pelacakan Kontak Terus Diperkuat
Salah satu strategi utama dalam penanganan Ebola adalah melacak orang-orang yang pernah berinteraksi dengan pasien terinfeksi. WHO mengungkapkan bahwa sekitar 75 persen kontak erat kini berhasil diidentifikasi dan dipantau.
Meski angka tersebut menunjukkan kemajuan, WHO menegaskan bahwa setidaknya 95 persen kontak harus berhasil dilacak agar wabah dapat dikendalikan secara efektif.
Belizaire menjelaskan bahwa masih banyak warga yang memilih bertahan di rumah saat mengalami gejala awal. Sebagian lainnya bahkan lebih dahulu mendatangi pengobat tradisional sebelum akhirnya mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan.
Kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan diagnosis dan perawatan, yang berpotensi memperbesar risiko penyebaran virus.
Puluhan Pasien Berhasil Sembuh
Di tengah situasi yang mengkhawatirkan, WHO juga mencatat adanya kabar positif. Hingga saat ini, sebanyak 78 pasien Ebola di Republik Demokratik Kongo telah dinyatakan sembuh.
Menurut Belizaire, angka kesembuhan tersebut menunjukkan bahwa diagnosis yang cepat dan akses terhadap layanan kesehatan yang memadai dapat meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.
Ia menegaskan bahwa penanganan medis yang tepat waktu menjadi faktor penting dalam menekan angka kematian akibat Ebola.
Tenaga Kesehatan Ikut Menjadi Korban
Petugas kesehatan menjadi kelompok yang paling terdampak pada tahap awal wabah. WHO melaporkan bahwa sejauh ini 75 tenaga kesehatan telah terinfeksi Ebola.
Dari jumlah tersebut, 17 orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Belizaire menjelaskan bahwa tidak semua tenaga kesehatan tertular di fasilitas medis. Mengingat tingginya tingkat penularan di masyarakat, sebagian kasus kemungkinan terjadi melalui interaksi di luar lingkungan kerja.
Namun demikian, tingginya jumlah tenaga kesehatan yang terinfeksi menunjukkan besarnya beban yang harus ditanggung sistem kesehatan setempat.
Dukungan Internasional Mulai Berdatangan
Untuk membantu mengatasi situasi darurat ini, berbagai negara dan organisasi internasional mulai mengirimkan bantuan. Salah satunya adalah tim medis dari China yang telah tiba di ibu kota Kinshasa sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bunia.
Kehadiran tim internasional diharapkan dapat memperkuat kapasitas tenaga medis lokal dalam menangani lonjakan kasus yang terus terjadi.
Uganda Tetap Waspada
Di negara tetangga, Uganda, penyebaran Ebola juga sempat terdeteksi. Hingga kini terdapat 19 kasus terkonfirmasi, termasuk dua kematian.
Meski begitu, otoritas kesehatan Uganda melaporkan tidak ada kasus baru selama 12 hari terakhir. Sebanyak 10 pasien juga telah dinyatakan sembuh.
Perkembangan tersebut memberikan harapan bahwa pengawasan ketat dan respons cepat dapat membantu menekan penyebaran penyakit lintas negara.
Lebih dari Satu Juta Pemeriksaan Dilakukan di Perbatasan
Sebagai langkah pencegahan, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) bersama berbagai mitra telah melakukan lebih dari satu juta pemeriksaan kesehatan di wilayah perbatasan dan jalur perjalanan utama.
Pemeriksaan tersebut bertujuan mendeteksi kemungkinan kasus baru sedini mungkin sekaligus mencegah penyebaran Ebola ke wilayah lain di Afrika Tengah dan Afrika Timur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com