Wabah Ebola menyebar cepat di Kongo. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)
INDOZONE.ID - Pemerintah Thailand resmi memberlakukan aturan karantina selama 21 hari bagi siapa saja yang datang atau transit dari Republik Demokratik Kongo dan Uganda.
Kebijakan ini diambil menyusul meningkatnya penyebaran wabah Ebola di kawasan Afrika Tengah yang kini menjadi perhatian dunia internasional.
Langkah tersebut diumumkan Kementerian Kesehatan Thailand pada Selasa, 26 Mei 2026. Pemerintah menilai mobilitas global yang tinggi membuat risiko penyebaran virus lintas negara semakin besar, meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus Ebola yang masuk ke Thailand.
Baca juga: Ilmuwan Temukan Dinosaurus Terbesar di Asia Tenggara, Ada di Thailand
Wilayah timur Republik Demokratik Kongo saat ini menjadi pusat penyebaran Ebola terbaru. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization bahkan telah mengeluarkan peringatan kesehatan internasional terkait situasi tersebut.
Sejak wabah diumumkan secara resmi pada 15 Mei lalu, jumlah korban terus meningkat dengan cepat. Data dari Kementerian Kesehatan Kongo menunjukkan lebih dari 200 orang meninggal dunia dan ratusan kasus lainnya masih dalam status dugaan infeksi.
Sementara itu di Uganda, negara tetangga Kongo, otoritas kesehatan melaporkan satu kematian akibat Ebola dan beberapa kasus positif lainnya telah terkonfirmasi.
Kondisi ini membuat sejumlah negara mulai memperketat pengawasan perbatasan dan jalur perjalanan internasional.
Baca juga: Remaja Ditangkap di Bandara Thailand karena Selundupkan 30 Kura-kura di Balik Pakaian
Dalam pernyataannya, Kementerian Kesehatan Thailand menegaskan bahwa semua orang yang memiliki riwayat perjalanan dari Kongo maupun Uganda wajib menjalani karantina minimal 21 hari, baik memiliki gejala maupun tidak.
Bagi pelancong yang menunjukkan tanda-tanda infeksi Ebola, mereka akan ditempatkan di rumah sakit pemerintah yang telah ditunjuk secara khusus. Sedangkan individu tanpa gejala akan menjalani isolasi di fasilitas karantina yang telah disiapkan pemerintah.
Pejabat senior Kementerian Kesehatan Thailand, Somlerk Jeungsmarn, mengatakan kebijakan ini bersifat pencegahan untuk menghindari potensi masuknya virus ke dalam negeri.
Menurutnya, Thailand memang belum menemukan pelaku perjalanan yang terinfeksi Ebola. Namun, arus perjalanan internasional yang sangat aktif membuat negara tersebut tetap harus meningkatkan kewaspadaan.
Ebola dikenal sebagai salah satu penyakit mematikan dengan tingkat fatalitas tinggi. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, termasuk darah, keringat, maupun cairan lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nytimes.com