Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 15 AGUSTUS 2025 • 14:35 WIB

Sudan Hadapi Wabah Kolera Terburuk: 40 Tewas Sepanjang Agustus, Perang Perparah Situasi

Sudan Hadapi Wabah Kolera Terburuk: 40 Tewas Sepanjang Agustus, Perang Perparah SituasiRuang gawat darurat yang penuh sesak di Rumah Sakit Al Nao, Khartoum, yang didukung MSF. 

INDOZONE.ID - Sudan dilanda wabah kolera terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang menewaskan puluhan warga sipil di wilayah Darfur. 

Peperangan berkepanjangan antara militer Sudan dan pasukan paramiliter RSF (Rapid Support Forces) membuat penyebaran wabah semakin memburuk.

Di lapangan, penanganan wabah terhambat, akses air bersih semakin terbatas, sementara fasilitas kesehatan kewalahan dalam menangani warga terinfeksi. 

Setidaknya 40 warga sipil tewas sejak awal Agustus tahun ini. Sementara itu, ribuan orang lainnya terinfeksi. Kota Tawila di Darfur Utara termasuk salah satu titik terdampak paling parah. 

Baca juga: Hindari Tarif Amerika Serikat yang Tinggi, Indonesia Jadi Pilihan Utama Investor China di Asia Tenggara

Berjarak 70 km dari El Fasher, benteng terakhir Tentara Sudan di wilayah Darfur, kota ini menjadi menjadi lokasi kamp pengungsian terbesar warga. 

“Di tengah perang besar-besaran, rakyat Sudan kini mengalami wabah kolera terburuk yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir,” bunyi pernyataan Organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) pada Kamis (14/08/2025) waktu setempat.

Hanya di wilayah Darfur saja, tim MSF telah merawat lebih dari 2.300 pasien. 

Menurut WHO, kolera disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae, yang ditularkan melalui makanan dan air yang terkontaminasi. 

Baca juga: Gelombang Panas dan Angin Kencang Picu Kebakaran Hutan Hebat di Eropa Selatan

Warga yang terinfeksi akan mengalami gejala beruba diare parah, muntah, dan kram otot. Penyakit ini dapat membunuh dalam beberapa jam tanpa pengobatan yang tepat. 

Walaupun larutan rehidrasi oral sederhana dan antibiotik dapat menyelamatkan nyawa warga yang terinfeksi, perang mengakibatkan hal tersebut cukup sukar untuk dilakukan dalam jangka waktu yang tepat.

Perang saudara yang terjadi di Sudan sejak April 2023 di Khartoum, telah menewaskan lebih dari 400 ribu orang, dan mengakibatkan 12 juta warga sipil mengungsi. 

Hal ini menyebabkan terjadinya krisis kemanusiaan dan juga kelaparan di mana-mana. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Sudan Hadapi Wabah Kolera Terburuk: 40 Tewas Sepanjang Agustus, Perang Perparah Situasi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!