Kamis, 09 APRIL 2026 • 08:05 WIB

Daftar Negara yang Diizinkan Iran untuk Melintasi Selat Hormuz

Author

Kapal tanker minyak melintas di Selat Hormuz pada 21 Desember 2018. (Reuters/Hamad I Mohammed)

INDOZONE.ID - Setelah sempat membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, Iran kini mulai memberikan akses terbatas kepada kapal dari sejumlah negara untuk melintasi jalur strategis tersebut. 

Perkembangan ini menjadi sorotan karena selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Meski tidak menutup jalur tersebut sepenuhnya, Iran menerapkan sistem verifikasi ketat terhadap kapal yang ingin melintas. 

Kapal diwajibkan berkoordinasi dengan otoritas Iran serta mendapatkan izin sebelum melewati perairan tersebut.

Baca juga: Efek Damai Sementara: Minyak Turun, Bursa Dunia Menghijau

Kebijakan ini membuat pola pelayaran di kawasan Teluk berubah. 

Jalur yang sebelumnya relatif terbuka kini lebih terkendali dan sangat dipengaruhi oleh hubungan diplomatik serta pertimbangan keamanan.

Kapal dari Sejumlah Negara Masih Bisa Melintas

Beberapa laporan pelayaran menunjukkan bahwa kapal dari sejumlah negara masih dapat melewati Selat Hormuz setelah melalui proses koordinasi dengan otoritas Iran.

India menjadi salah satu negara yang kapalnya masih melintasi jalur tersebut. 

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kapal pengangkut LPG dan minyak mentah dilaporkan berhasil melakukan transit. 

Baca juga: AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Dua Pekan, Selat Hormuz Dibuka

Akses ini penting bagi India yang sangat bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.

Selain India, China juga tetap aktif dalam lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut. 

Kapal yang berafiliasi dengan perusahaan China diperkirakan mencakup sekitar 10 persen dari total pergerakan kapal yang masih berlangsung di jalur tersebut.

Rusia juga dilaporkan memperoleh akses untuk melintas. Hubungan bilateral yang semakin erat antara Moskow dan Teheran dinilai menjadi salah satu faktor yang mempermudah proses izin transit.

Sementara itu, Pakistan sempat menghadapi kendala ketika salah satu kapalnya diminta kembali karena belum memenuhi prosedur yang ditetapkan Iran. 

Baca juga: Amerika Serikat dan Iran Saling Klaim Kemenangan usai Gencatan Senjata

Namun, setelah proses diplomasi dan pemenuhan syarat teknis, kapal dari negara tersebut kembali diizinkan melintas.

Di kawasan Timur Tengah, Irak juga termasuk negara yang kapalnya masih dapat melewati Selat Hormuz setelah melalui koordinasi dengan Iran.

Selain itu, kapal yang berafiliasi dengan Malaysia dilaporkan masih melintasi jalur tersebut. Dalam beberapa skema tertentu, kapal bahkan disebut tidak dikenakan biaya transit.

Data pelayaran dari Lloyd’s List juga menunjukkan bahwa kapal yang berafiliasi dengan Yunani tetap mengambil bagian dalam lalu lintas kapal non-Iran yang masih diizinkan melintas.

Baca juga: Ledakan Panel Surya di Pakistan Lindungi Negeri dari Krisis Perang Iran

Sistem Verifikasi Kapal Diperketat

Iran kini menerapkan sistem pemeriksaan yang lebih ketat terhadap kapal yang hendak melintas. 

Kapal diwajibkan memberikan informasi pelayaran secara lengkap serta mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh otoritas Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut negara-negara yang memiliki hubungan baik dengan Teheran mendapatkan prioritas akses untuk melintasi selat tersebut.

Sebaliknya, kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan tidak diizinkan melintas, menunjukkan kuatnya pengaruh dinamika geopolitik dalam kebijakan ini.

Baca juga: Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 Pekan dengan Iran

Lalu Lintas Kapal Turun Tajam

Pembatasan akses ini berdampak langsung pada volume pelayaran di Selat Hormuz. Dalam kondisi normal, lebih dari 100 kapal dapat melintasi jalur tersebut setiap hari. 

Namun, dalam beberapa pekan terakhir jumlahnya turun drastis, bahkan terkadang hanya beberapa kapal saja yang melintas.

Sejak awal Maret, tercatat hanya sekitar 142 kapal yang berhasil melewati Selat Hormuz. Angka tersebut biasanya setara dengan aktivitas pelayaran dalam satu hari pada kondisi normal. 

Selain itu, sekitar 2.000 kapal dilaporkan sempat tertahan di kedua sisi selat sambil menunggu izin melintas atau kepastian kondisi keamanan.

Baca juga: Israel Perluas Serangan, Infrastruktur Lebanon Lumpuh dan Warga Terisolasi

Dampak pada Energi dan Logistik Global

Situasi di Selat Hormuz mulai berdampak pada sektor energi dan logistik global. Risiko keamanan yang meningkat membuat premi asuransi kapal melonjak, sementara beberapa perusahaan pelayaran memilih rute alternatif yang lebih panjang.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya distribusi energi serta memperpanjang waktu pengiriman. 

Di tengah situasi tersebut, muncul pula laporan bahwa Iran tengah mempertimbangkan penerapan biaya transit bagi kapal yang melintasi wilayah perairannya.

Sebagai jalur yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, setiap gangguan di Selat Hormuz dapat memicu efek berantai terhadap harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga harga barang di tingkat konsumen.

Baca juga: Prajurit Pahlawan Nasional Australia Ditangkap atas Tuduhan Kejahatan Perang di Afghanistan

Jika pembatasan ini berlangsung dalam jangka panjang, para analis menilai peta distribusi energi global berpotensi mengalami perubahan signifikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera, Gulf News

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU