Panel surya di Pakistan meledak. (Zeeshan Nasir/ Al Jazeera)
INDOZONE.ID - Sekitar 25 persen rumah tangga di Pakistan kini menggunakan panel surya. Kondisi ini melindungi jutaan keluarga dari guncangan pasokan energi akibat perang AS-Israel melawan Iran.
Karim Baksh, petani di Desa Dasht, Balochistan, merasakan manfaatnya. Dulu, ia mengandalkan pompa diesel untuk mengairi ladang semangka. Namun, setelah perang Rusia-Ukraina pada 2022, harga bahan bakar melonjak drastis.
"Menjadi tidak mungkin menjalankan pompa dengan diesel setiap hari," ujar Baksh. Dengan sedikit air, semangkanya mulai rusak. Ia pun mengurangi lahan garapan di beberapa musim.
Pada 2023, ia meminjam 300.000 rupee Pakistan (sekitar Rp17,5 juta) dari kerabat. Ia memasang sederet panel surya di samping ladangnya. Tiga tahun kemudian, keputusan berisiko itu membuahkan hasil.
Di tengah perang AS-Israel melawan Iran, Selat Hormuz ditutup. Padahal, 20 persen minyak dan gas dunia melewati jalur itu saat damai. Akibatnya, harga energi melonjak di seluruh dunia.
Namun, Baksh tidak khawatir. Di bawah terik matahari Dasht yang suhunya mencapai 51 derajat Celsius, pompanya berjalan tanpa diesel. Ia bisa mengairi semangka tanpa gangguan.
"Sekarang saya tidak peduli jika harga diesel naik," kata Baksh bangga sambil menunjuk matahari. "Selama matahari ini ada, saya bisa menanam semangka."
Cerita Baksh menunjukkan kerentanan besar yang dihadapi Pakistan sekaligus keuntungan tak terduga. Ini bisa melindungi negara berpenduduk 250 juta jiwa dari dampak terburuk perang Iran.
Baca juga: Serangan Udara Pakistan di Afghanistan: Respons Atas Tekanan di Dua Perbatasan
Sistem energi Pakistan sangat terikat dengan jalur pasokan global. Delapan puluh persen impor minyak negara itu melewati Selat Hormuz, celah sempit antara Iran dan Oman.
Sebanyak 99 persen gas alam cair (LNG) Pakistan juga berasal dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Kapasitas penyimpanan energi Pakistan terbatas, membuatnya rentan terhadap guncangan.
Dewan Hubungan Luar Negeri AS memperingatkan bahwa Pakistan bisa mengalami tekanan energi parah jika Selat Hormuz tetap ditutup beberapa bulan ke depan. Kekurangan pasokan gas ke pembangkit listrik bisa memicu pemadaman besar.
Namun, transformasi sunyi di atap rumah dan lahan pertanian Pakistan menjanjikan perlindungan parsial. Puluhan panel surya mengubah cara energi diproduksi dan digunakan.
Sejak 2018, ledakan panel surya atap di Pakistan membantu negara menghemat lebih dari 12 miliar dolar AS untuk impor bahan bakar. Tahun ini, penghematan diperkirakan mencapai 6,3 miliar dolar AS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera.com