Seorang pria duduk di tepi sunbgai Siene di tengah gelombang panas yang melanda Paris, Prancis. (REUTERS/Tom Nicholson)
INDOZONE.ID - Gelombang panas yang memecahkan rekor terus melanda sejumlah negara di Eropa pada Rabu (24/6/2026).
Suhu yang melonjak hingga di atas 40 derajat Celsius tidak hanya membuat warga kepanasan, tetapi juga memicu gangguan listrik besar-besaran di Prancis dan meningkatkan permintaan pendingin ruangan serta kipas angin secara drastis.
Para ahli menjelaskan bahwa cuaca ekstrem ini dipicu oleh pola atmosfer yang membuat massa udara panas terperangkap selama beberapa hari.
Dampak pemanasan global disebut semakin memperparah kondisi tersebut sehingga gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang lebih tinggi.
Baca juga: Gelombang Panas Ekstrem di India Tewaskan 16 Orang, Suhu Tembus 45 Derajat Celsius
Prancis mencatat rekor suhu nasional baru. Indikator suhu nasional yang dihitung dari rata-rata suhu siang dan malam di 30 stasiun cuaca mencapai 29,8 derajat Celsius pada Selasa (23/6), tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1947.
Pemerintah juga menaikkan status siaga panas ke level tertinggi di beberapa wilayah tambahan. Akibatnya, sekitar 44 juta penduduk kini berada di area yang terdampak gelombang panas.
Lebih dari 90 persen populasi Prancis diperkirakan terpapar suhu ekstrem. Di sejumlah wilayah, termasuk Brittany hingga kawasan Paris serta sebagian besar wilayah barat daya negara itu, suhu diperkirakan berkisar antara 39 hingga 41 derajat Celsius.
Baca juga: Gelombang Panas dan Angin Kencang Picu Kebakaran Hutan Hebat di Eropa Selatan
Cuaca panas yang berkepanjangan juga menyebabkan gangguan pada infrastruktur listrik. Sebuah transformator di wilayah Finistere, Prancis barat laut, mengalami masalah akibat suhu ekstrem sehingga sekitar 68.000 rumah kehilangan pasokan listrik.
Pada puncaknya, lebih dari 106.000 pelanggan terdampak pemadaman. Otoritas setempat menyatakan proses pemulihan berlangsung sepanjang malam, namun pasokan listrik belum dapat dipulihkan sepenuhnya hingga setidaknya akhir Rabu.
Para ilmuwan menilai kondisi ini menunjukkan kerentanan infrastruktur lama yang dibangun sebelum perubahan iklim akibat aktivitas manusia menyebabkan gelombang panas menjadi lebih sering dan lebih parah.
Lonjakan suhu membuat masyarakat berbondong-bondong membeli perangkat pendingin udara. Permintaan kipas angin dan AC meningkat tajam di negara yang sebagian besar bangunannya memang tidak dirancang untuk menghadapi panas ekstrem.
Jaringan hipermarket Carrefour mengungkapkan telah menjual sekitar 30.000 unit kipas dan perangkat pendingin hingga Senin sore. Jumlah tersebut disebut seribu kali lebih tinggi dibandingkan hari biasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nytimes.com