INDOZONE.ID - Berita terbaru konflik Israel-Palestina kembali mencuri perhatian dunia. Pada Senin, 7 Juli 2025, suasana memanas di Tel Aviv, Israel, ketika puluhan warga, termasuk keluarga para sandera, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kedutaan AS.
Mereka menuntut gencatan senjata di Gaza dan mendesak pembebasan sandera yang masih ditahan di wilayah tersebut.
Aksi ini berlangsung menjelang pertemuan Trump dan Netanyahu terbaru yang dianggap sangat krusial. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk membahas peluang kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Baca juga: Donald Trump Minta Israel Ampuni Benjamin Netanyahu, Sebut AS Pernah Selamatkan Negara Mereka
Pertemuan Trump dan Netanyahu bertemu dorong kesepakatan Gaza yang dinilai sangat penting, terutama jelang pembicaraan tingkat tinggi di Doha, Qatar.
Utusan khusus Presiden Trump, Steve Witkoff, juga akan bergabung dalam pertemuan tersebut dalam upaya mempercepat tercapainya gencatan senjata, mengingat perang di Gaza telah berlangsung hampir dua tahun.
Netanyahu dijadwalkan bertemu secara terpisah dengan Witkoff dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebelum akhirnya makan malam bersama Trump pada pukul 18.30 waktu setempat di Washington.
Baca juga: Ribuan Pilot Tempur Israel Isi Petisi Tolak Perang di Gaza, Netanyahu Dukung Pemecatan
Netanyahu menyebutkan bahwa pertemuan dengan Trump berpotensi besar untuk mendorong tercapainya kesepakatan dengan Hamas.
Sementara itu, Trump menyatakan keyakinannya bahwa ada peluang besar kesepakatan akan tercapai pekan ini.
“Ada kemungkinan besar kita bisa mencapai kesepakatan dengan Hamas dalam waktu dekat,” ujarnya optimistis.
Meskipun Israel masih menganggap tuntutan Hamas “tidak bisa diterima”, mereka tetap mengirimkan delegasi ke Qatar untuk melanjutkan perundingan.
Kesepakatan gencatan senjata di Gaza memang telah beberapa kali gagal dicapai sebelumnya, terutama karena Israel menolak tuntutan Hamas untuk gencatan senjata permanen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Washington Post