INDOZONE.ID - Pada tahun 1955, dunia sedang berada dalam cengkeraman Perang Dingin. Di tengah persaingan dua kekuatan besar, Amerika Serikat dan Uni Soviet, suara dari negara-negara yang baru merdeka mulai bangkit.
Dari sebuah gedung di pusat Kota Bandung, lahir sebuah dokumen sejarah yang hingga kini menjadi kompas moral bagi politik luar negeri banyak negara: Dasasila Bandung.
Berikut adalah ulasan mengenai sepuluh prinsip yang mengubah peta diplomasi dunia dan bagaimana relevansinya di era modern saat ini.
Baca juga: Ultah ke-119 Soekarno, Kartika Unggah KTT Asia-Afrika Pertama: Sindir Rasisme di Amerika
Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang diselenggarakan pada 18–24 April 1955 merupakan inisiatif besar dari Indonesia (sebagai tuan rumah), Myanmar (dahulu Burma), Sri Lanka (dahulu Ceylon), India, dan Pakistan.
Konteks politik saat itu sangat tegang. Negara-negara di Asia dan Afrika merasa hanya menjadi "pion" dalam permainan kekuasaan blok Barat dan Timur.
Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, menggalang solidaritas untuk menghentikan kolonialisme dan menuntut penghormatan terhadap kedaulatan negara-negara yang baru seumur jagung.
Baca juga: Polrestabes Bandung Berhasil Ringkus Pelaku Penganiayaan Lansia yang Berujung Meninggal Dunia
Dasasila Bandung adalah sepuluh poin kesepakatan yang dirumuskan sebagai pedoman kerja sama internasional dan perdamaian dunia. Prinsip-prinsip ini mencakup:
1. Menghormati hak-hak dasar manusia sesuai piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa.
3. Mengakui persamaan semua ras dan bangsa.
4. Tidak melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri negara lain.
5. Menghormati hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri (secara individu/kolektif).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan