INDOZONE.ID - Menyaksikan arah kebijakan strategis Indonesia di panggung internasional saat ini akan membawa kamu pada pemahaman baru mengenai besarnya komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global.
Dampak nyata dari pergeseran cuaca ekstrem tersebut kini tidak bisa dihindari lagi karena langsung memengaruhi lanskap, topografi, hingga faktor geografis yang memicu kenaikan permukaan air laut.
Utusan Khusus Pemerintah Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan kecemasannya mengenai ancaman nyata yang dihadapi oleh garis pantai di kepulauan nusantara, terutama sepanjang barat hingga timur Pulau Jawa.
Situasi krusial ini memaksa negara untuk mengalokasikan anggaran hingga ratusan triliun rupiah demi membangun tanggul laut raksasa sepanjang 500 kilometer guna melindungi ruang hidup masyarakat dari ancaman abrasi dan banjir rob yang meluas.
Baca juga: Pelajar Peledak Bom di MAN 3 Padang Tak Terafiliasi Teroris, Belajar Otodidak
Di tengah bayang-bayang ancaman ekologis tersebut, kamu patut berbangga karena pemerintah telah berhasil meluncurkan sebuah terobosan regulasi yang sudah dinantikan selama belasan tahun oleh publik sejak lahirnya Perjanjian Paris.
Langkah konkret ini diwujudkan melalui peresmian pasar karbon nasional dan penetapan Sistem Registrasi Unit Karbon atau SRUK yang langsung menarik perhatian sekaligus pujian dari para investor global di New York, London, Tokyo, hingga Singapura.
Keberhasilan penyusunan sistem ini melibatkan koordinasi ketat di bawah kendali Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang dimotori oleh kementerian sektor lingkungan dan kehutanan bersama sepuluh lembaga negara lainnya.
Melalui pencapaian monumental ini, lembaga domestik seperti PT Perusahaan Listrik Negara kini dapat menikmati babak baru pemanfaatan kredit karbon untuk mengakselerasi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga mencapai kapasitas puluhan gigawatt.
Baca juga: Update Kasus Bom Rakitan MAN 3 Padang, Polisi Sebut Fokus ke Pemulihan Siswa
"Kritik terhadap pemerintah selalu berbunyi sebagai wacana dan impian mulia, tapi selalu ada hambatan pada implementasi, namun khusus pada masalah pengembangan pasar karbon ini pemerintah kita sangat berhasil," ujar Hashim Djojohadikusumo saat menegaskan ketegasan eksekusi regulasi yang sukses mematahkan keraguan para pengamat internasional.
Selain optimalisasi nilai ekonomi karbon, pemerintah juga menaruh harapan besar pada pemanfaatan teknologi baru berupa penangkapan dan utilitas karbon guna menekan emisi gas buang dari penggunaan bahan bakar fosil yang selama ini dicap sebagai ancaman.
Pengujian teknologi mutakhir ini bahkan telah berhasil mereduksi emisi karbon dioksida secara drastis hingga angka 99 persen di kawasan industri Petrokimia Gresik.
Kehadiran inovasi digital ini dipastikan akan mengizinkan bangsa Indonesia untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam batu bara dan gas bumi di dalam negeri secara lebih aman dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung