INDOZONE.ID - Ribuan Warga Turun ke Jalan, Protes Perang Timur Tengah Meluas di 150 Kota Spanyol
menuntut agar permusuhan segera dihentikan dan hukum internasional dihormati.
Di ibu kota Madrid, sekitar 5.000 orang berkumpul di sekitar Stasiun Atocha, menurut sumber penegak hukum.
Aksi kemudian berlanjut menuju area Museum Nasional Pusat Seni Ratu Sofia, tempat disimpannya lukisan terkenal Guernica karya Pablo Picasso, yang dikenal sebagai simbol seni anti-perang.
Dalam aksi tersebut, para demonstran membawa berbagai spanduk dan meneriakkan sejumlah slogan seperti “Tidak untuk perang,” “Tidak untuk NATO,” serta “Siapa yang memutuskan di sini? Rakyat Iran.”
Baca juga: Hamas Minta Iran Tidak Menyerang Negara Tetangga di Tengah Perang Timur Tengah
Aksi protes nasional ini juga mengangkat seruan “Setop Perang Timur Tengah. Jangan Lupakan Gaza.” Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari lebih dari 100 organisasi sipil dan partai politik.
Dalam deklarasi tertulis yang dibacakan saat aksi, para demonstran mengecam serangan militer yang terjadi di kawasan tersebut.
“Tidak ada yang membenarkan pemboman brutal AS dan Israel yang menimbulkan ancaman serius bagi perdamaian kawasan dan keamanan global. Kami mendesak semua pihak yang menjunjung demokrasi untuk mengutuk agresi ini, menghormati hukum internasional, dan mengupayakan perdamaian yang adil dan langgeng di Timur Tengah, termasuk mengakhiri genosida di Gaza,” demikian isi pernyataan para demonstran.
Aksi serupa juga berlangsung di sejumlah kota besar lain di Spanyol seperti Barcelona, Seville, Zaragoza, Santander, dan Cordoba.
Sehari sebelumnya, pada 13 Maret, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Spanyol mengimbau warganya untuk menghindari kegiatan yang melibatkan kerumunan massa karena potensi demonstrasi yang dapat terjadi.
Kedutaan juga memperingatkan bahwa situasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkat dengan cepat.
Konflik memanas setelah Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta target militer Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai balasan atas operasi militer gabungan yang diluncurkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari.
Pada hari pertama operasi tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas, sementara sebuah sekolah perempuan di Iran selatan juga terkena serangan bom. Pemerintah Iran memperkirakan jumlah korban tewas dalam rangkaian serangan tersebut telah mencapai lebih dari 1.300 orang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA