INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan, konflik militer dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir.
Meski demikian, ia tidak memberikan jadwal pasti kapan serangan yang mengguncang kawasan Timur Tengah tersebut akan dihentikan.
Pernyataan itu disampaikan Trump dalam konferensi pers di Florida pada Senin (9/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengungkapkan rencana pemerintahannya, untuk melonggarkan beberapa sanksi terkait minyak.
Hal itu guna menjaga pasokan global tetap stabil dan menekan lonjakan harga energi.
Baca juga: Trump Peringatkan Pemimpin Baru Iran Tidak akan Bertahan Tanpa Persetujuan AS
Trump Optimistis Konflik Akan Segera Selesai
Berbicara kepada wartawan di klub golf miliknya di Doral, Florida, Trump mengatakan, konflik dengan Iran bisa berakhir dalam waktu dekat.
Menurutnya, kekuatan militer Iran telah melemah secara signifikan, setelah serangkaian serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Menurut saya, ini akan segera berakhir. Sangat segera,” kata Trump, ketika ditanya apakah perang tersebut dapat berakhir dalam hitungan hari atau minggu.
Ia mengklaim, sebagian besar kemampuan militer Iran sudah lumpuh, termasuk kepemimpinan mereka. Pernyataan ini sempat memicu optimisme di pasar keuangan global, yang merespons positif kemungkinan berakhirnya konflik.
Namun dalam kesempatan yang sama, Trump juga menegaskan, Amerika Serikat tetap mengincar apa yang ia sebut sebagai “kemenangan penuh” terhadap pemerintahan ulama di Teheran.
Baca juga: Trump Ingin Terlibat Saat Penentuan Pemimpin Baru Iran Saat Perang Memanas
Target Strategis Iran Masih Disimpan
Trump menyatakan, Amerika Serikat masih menyimpan beberapa target strategis di Iran untuk kemungkinan serangan lanjutan apabila diperlukan.
Salah satu target yang disebutkan adalah jaringan listrik nasional Iran. Menurutnya itu termasuk infrastruktur penting yang dapat diserang jika konflik semakin meningkat.
Pernyataan ini menunjukkan, meskipun Trump optimistis perang akan segera berakhir, opsi militer masih tetap terbuka.
Ancaman Jika Iran Ganggu Jalur Minyak Global
Dalam konferensi pers tersebut, Trump juga mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait jalur distribusi minyak dunia, khususnya melalui Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia. Trump menegaskan bahwa jika Iran mencoba menghambat pengiriman minyak melalui wilayah tersebut, Amerika Serikat akan merespons dengan serangan yang jauh lebih besar.
Ia mengatakan bahwa serangan balasan tersebut akan begitu kuat sehingga pihak yang mengganggu stabilitas kawasan tidak akan mampu pulih dengan mudah.
Peringatan ini muncul di tengah kenaikan harga minyak global akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Trump Sebut Konflik Hanya “Operasi Militer”
Menariknya, Trump juga berusaha mengecilkan skala konflik tersebut. Ia berulang kali menyebut operasi militer terhadap Iran sebagai sebuah “ekskursi” atau operasi terbatas, bukan perang besar.
Padahal operasi militer ini belum mendapatkan persetujuan resmi dari Kongres Amerika Serikat, sehingga memicu kritik dari berbagai pihak di dalam negeri.
Beberapa pengamat menilai pemerintahan Trump memberikan pesan yang tidak konsisten terkait tujuan sebenarnya dari konflik tersebut, terutama mengenai apakah Amerika Serikat ingin mengganti rezim Iran atau tidak.
Pemimpin Baru Iran Jadi Sorotan
Situasi politik Iran juga semakin memanas, setelah negara itu menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru.
Ia merupakan putra dari mendiang Ali Khamenei yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Ketika ditanya apakah pemimpin baru Iran menjadi target serangan Amerika Serikat, Trump menolak memberikan jawaban tegas. Ia hanya mengatakan bahwa pengangkatan Mojtaba Khamenei bukanlah perkembangan yang baik.
Trump juga menambahkan, lebih memilih jika pemimpin baru Iran berasal dari kalangan internal negara tersebut, bukan figur yang didukung pihak luar.
AS Pertimbangkan Melonggarkan Sanksi Minyak
Selain membahas situasi militer, Trump juga mengumumkan langkah untuk melonggarkan beberapa sanksi terkait minyak.
Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan memastikan pasokan energi global tetap mencukupi, dan harga minyak tidak melonjak terlalu tinggi akibat konflik.
Ia menyampaikan hal itu setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Trump mengungkapkan, Amerika Serikat telah memberikan pengecualian sementara selama 30 hari. Hal itu agar minyak Rusia yang saat ini tertahan di laut dapat dijual ke India.
Langkah tersebut dilakukan untuk membantu meredakan tekanan pada pasar energi global.
Komunikasi dengan Rusia
Trump juga mengatakan, percakapannya dengan Putin berlangsung positif dan membahas dua konflik besar yang sedang berlangsung, yakni perang di Iran dan perang di Ukraina.
Menurut Trump, Putin menunjukkan keinginan untuk membantu meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Rusia diketahui memiliki hubungan dekat dengan Iran. Sementara konflik dengan Ukraina, telah berlangsung sejak invasi Rusia pada 2022.
Klaim Kerusakan Besar pada Militer Iran
Dalam wawancara sebelumnya dengan media Amerika, Trump juga mengklaim bahwa serangan militer yang dimulai sejak 28 Februari telah menghancurkan sebagian besar kekuatan militer Iran.
Ia menyebutkan, angkatan laut Iran hampir tidak lagi berfungsi, jaringan komunikasi militer terganggu, dan kemampuan udara mereka melemah.
Trump juga menambahkan bahwa banyak drone Iran telah dihancurkan, termasuk fasilitas produksi drone mereka.
Menurutnya, jika dilihat dari sisi militer, Iran kini hampir tidak memiliki kemampuan tempur yang signifikan.
Pernyataan Berbeda dari Pentagon
Meski Trump menyatakan konflik hampir selesai, pesan yang disampaikan pemerintah Amerika Serikat terlihat tidak sepenuhnya selaras.
Beberapa waktu setelah pernyataan Trump, Departemen Pertahanan AS atau Pentagon justru menyampaikan di media sosial bahwa Amerika Serikat “baru saja mulai berperang”.
Perbedaan pesan ini semakin menimbulkan pertanyaan mengenai arah dan tujuan sebenarnya, dari operasi militer Amerika Serikat di Iran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters