Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Ken Cedeno)
INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali jadi perhatian publik setelah terlihat ruam kemerahan di sisi lehernya saat menghadiri upacara Medal of Honor di Gedung Putih, Washington DC, Senin (3/3/2026) waktu setempat.
Penampakan tersebut langsung memicu spekulasi baru mengenai kondisi kesehatan orang nomor satu di AS itu.
Menanggapi hal tersebut, dokter pribadi Trump buka suara agar tak jadi isu liar di kalangan publik. Ia menjelaskan, ruam tersebut disebabkan oleh krim yang sedang digunakan Trump sebagai perawatan kulit pencegahan.
Baca juga: Iran Bersumpah Balas Dendam atas Tewasnya Pemimpin Tertinggi Meski Diancam Trump
"Presiden Trump menggunakan krim yang sangat umum di sisi kanan lehernya, yang merupakan perawatan kulit preventif," ujar Dr. Sean Barbabella dalam keterangannya.
"Perawatan ini digunakan selama satu minggu, dan kemerahan diperkirakan akan bertahan selama beberapa minggu," tambahnya.
Namun, Sean tak menjelaskan alasan Trump memerlukan krim itu. Ia juga tak menjelaskan secara rinci jenis krim yang digunakan Trump.
Isu kesehatan Trump memang jadi perhatian dalam beberapa bulan terakhir. Pada Februari 2025, Trump sempat terlihat memiliki sesuatu yang menyerupai riasan di tangannya. Setelah itu, beberapa kali ia juga tampak memiliki memar di bagian tangan.
Selain itu, Trump sempat terlihat mengantuk dalam sebuah rapat kabinet pada Desember lalu dan dalam pertemuan yang membahas upaya menurunkan harga obat penurun berat badan jenis GLP-1.
Menanggapi hal itu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebelumnya menyatakan bahwa memar di tangan Trump terjadi karena aktivitasnya yang padat.
Baca juga: Trump Klaim 48 Pemimpin Tewas dalam Serangan ke Iran, Ada Sinyal Dialog dengan Kepemimpinan Baru
“Presiden Trump mengalami memar di tangan karena ia terus bekerja dan berjabat tangan sepanjang hari, setiap hari,” kata Leavitt.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian