INDOZONE.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki hari kesembilan. Situasi semakin rumit setelah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam konflik tersebut.
Di tengah kondisi perang yang masih berlangsung, Iran tengah bersiap mengumumkan sosok pengganti pemimpin tertingginya. Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras yang memicu perhatian dunia internasional.
Ia menegaskan bahwa pemimpin baru Iran tidak akan bertahan lama jika tidak mendapatkan persetujuan dari Washington.
Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi dari pemerintah Iran yang menegaskan bahwa proses pemilihan pemimpin tertinggi merupakan urusan internal negara dan tidak boleh dicampuri pihak luar.
Baca juga: Trump Ingin Terlibat Saat Penentuan Pemimpin Baru Iran Saat Perang Memanas
Iran Bersiap Mengumumkan Pemimpin Tertinggi Baru
Setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam konflik yang sedang berlangsung, lembaga yang berwenang di Iran, yaitu Majelis Ahli (Assembly of Experts), bergerak cepat untuk menentukan penggantinya.
Tiga anggota lembaga tersebut menyatakan bahwa proses pemungutan suara untuk memilih pemimpin baru sebenarnya sudah selesai dilakukan.
Namun hingga beberapa jam setelah pernyataan itu disampaikan, nama pengganti Khamenei belum diumumkan secara resmi kepada publik.
Salah satu anggota Majelis Ahli, Hossein Redaei, menjelaskan bahwa hasil pemungutan suara telah terkumpul. Meski begitu, kondisi perang membuat lembaga tersebut memutuskan untuk tidak menggelar pertemuan terbuka atau pengumuman secara langsung kepada masyarakat.
Situasi keamanan yang tidak stabil menjadi alasan utama mengapa proses tersebut dilakukan secara tertutup. Iran saat ini masih berada dalam kondisi siaga tinggi akibat serangan yang terjadi di berbagai wilayah.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Meningkat, Trump Khawatir Pemimpin Baru Lebih Buruk
Spekulasi Pengganti Khamenei
Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul spekulasi mengenai siapa yang akan menggantikan posisi pemimpin tertinggi Iran.
Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang kini berusia 56 tahun. Ia dikenal sebagai tokoh konservatif yang memiliki hubungan kuat dengan Garda Revolusi Iran.
Garda Revolusi merupakan salah satu kekuatan militer dan ideologis paling berpengaruh dalam sistem pemerintahan Iran. Kedekatan Mojtaba dengan lembaga tersebut membuat sebagian pihak menilai ia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin berikutnya.
Namun hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai siapa sosok yang akan memimpin negara tersebut setelah kematian Khamenei.
Pernyataan Keras Donald Trump
Di tengah proses pemilihan pemimpin baru Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan yang cukup kontroversial.
Dalam wawancara dengan media Amerika, Trump mengatakan bahwa pemimpin baru Iran harus mendapatkan persetujuan dari Amerika Serikat jika ingin bertahan lama.
Ia bahkan menyebut bahwa siapa pun yang memimpin Iran tanpa dukungan Washington, tidak akan mampu mempertahankan kekuasaannya.
Trump sebelumnya juga pernah menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin Iran. Ia menyebut putra Khamenei tersebut sebagai sosok yang tidak cukup kuat untuk memimpin negara.
Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari pihak Iran yang menilai komentar Trump sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri mereka.
Iran Tegaskan Tidak Akan Terima Campur Tangan
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa keputusan mengenai pemimpin tertinggi sepenuhnya merupakan hak rakyat Iran.
Ia menyatakan bahwa negaranya tidak akan membiarkan pihak mana pun ikut campur dalam proses politik domestik mereka.
Menurut Araghchi, sistem pemerintahan Iran memiliki mekanisme yang jelas untuk menentukan pemimpin tertinggi, dan proses tersebut akan berjalan sesuai konstitusi negara.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga meminta Donald Trump untuk meminta maaf kepada masyarakat di kawasan Timur Tengah atas eskalasi konflik yang terus meningkat.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa hubungan antara Iran dan Amerika Serikat semakin tegang di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Serangan Baru di Teheran dan Beirut
Sementara itu, situasi di lapangan terus memanas dengan terjadinya serangkaian serangan baru.
Israel dilaporkan melancarkan dua operasi militer besar dalam waktu hampir bersamaan. Serangan pertama menargetkan fasilitas penyimpanan bahan bakar di sekitar ibu kota Iran, Teheran.
Serangan tersebut menyebabkan beberapa fasilitas minyak terbakar hebat dan menewaskan sedikitnya empat orang. Asap tebal dari kebakaran menyelimuti kota yang dihuni sekitar 10 juta penduduk itu.
Serangan kedua terjadi di Beirut, ibu kota Lebanon. Sebuah hotel yang diduga menjadi tempat berkumpul para komandan militer Iran menjadi sasaran serangan udara Israel.
Militer Israel mengklaim bahwa serangan tersebut menewaskan lima komandan Garda Revolusi Iran, termasuk tiga anggota dari unit elit Quds Force.
Dampak Serangan terhadap Warga Sipil
Serangan terhadap fasilitas bahan bakar di Teheran menimbulkan dampak besar bagi warga sipil.
Asap hitam pekat menyelimuti langit kota dan menutupi sinar matahari. Bau bahan bakar yang terbakar juga menyebar di berbagai wilayah, membuat kualitas udara memburuk secara drastis.
Pemerintah setempat memperingatkan bahwa asap tersebut berpotensi beracun dan meminta warga untuk tetap berada di dalam rumah.
Beberapa warga bahkan melaporkan bahwa ledakan yang terjadi cukup kuat hingga memecahkan jendela di sejumlah bangunan.
Selain itu, distribusi bahan bakar di ibu kota juga sempat terganggu akibat kerusakan pada fasilitas penyimpanan.
Iran Siap Lanjutkan Serangan
Di tengah situasi perang yang semakin intens, Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa mereka masih memiliki persediaan senjata yang cukup untuk melanjutkan operasi militer dalam waktu lama.
Menurut juru bicara Garda Revolusi, Iran memiliki stok drone dan rudal yang cukup untuk melanjutkan serangan hingga enam bulan ke depan.
Ia juga mengungkapkan bahwa sejauh ini Iran baru menggunakan rudal generasi pertama dan kedua. Dalam beberapa hari ke depan, mereka berencana menggunakan rudal jarak jauh yang lebih canggih.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa konflik kemungkinan masih akan berlangsung cukup lama.
Serangan Balasan ke Israel dan Negara Teluk
Iran juga terus melancarkan serangan balasan ke berbagai wilayah di Timur Tengah.
Beberapa ledakan dilaporkan terdengar di Tel Aviv setelah militer Israel mendeteksi peluncuran sejumlah rudal dari Iran.
Layanan darurat Israel menyatakan bahwa setidaknya enam orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Serangan juga dilaporkan terjadi di beberapa negara Teluk. Di Arab Saudi, dua orang tewas dan 12 lainnya terluka setelah sebuah proyektil menghantam wilayah Al-Kharj.
Sementara itu, Kuwait melaporkan serangan terhadap tangki bahan bakar di bandara internasionalnya, dan Bahrain menyatakan bahwa sebuah fasilitas desalinasi air mengalami kerusakan akibat serangan.
Korban Konflik Terus Bertambah
Korban jiwa akibat konflik ini terus meningkat di berbagai wilayah.
Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan bahwa sedikitnya 1.200 warga sipil telah tewas dan sekitar 10.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
Di Lebanon, serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 394 orang sejak negara tersebut terseret ke dalam konflik sekitar satu minggu lalu. Korban tersebut termasuk puluhan anak-anak dan perempuan.
Sementara itu, militer Israel juga melaporkan dua tentaranya tewas dalam pertempuran di wilayah selatan Lebanon.
Di pihak Amerika Serikat, seorang anggota militer dilaporkan meninggal dunia setelah sebelumnya terluka dalam serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Arab Saudi.
Belum Ada Jalan Keluar yang Jelas
Para analis menilai konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat ini masih jauh dari kata selesai.
Beberapa pejabat Amerika dan Israel bahkan memperkirakan bahwa perang tersebut bisa berlangsung selama satu bulan atau lebih.
Donald Trump menyatakan bahwa ekonomi Iran dapat dibangun kembali jika negara tersebut dipimpin oleh sosok yang dapat diterima oleh Amerika Serikat.
Sementara itu, dua negara besar yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, yaitu China dan Rusia, sejauh ini belum menunjukkan keterlibatan langsung dalam konflik tersebut.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menyatakan bahwa perang di Timur Tengah seharusnya tidak pernah terjadi. Ia juga menegaskan bahwa dunia tidak boleh kembali pada situasi di mana kekuatan menjadi satu-satunya hukum yang berlaku.
Seruan Perdamaian dari Dunia Internasional
Di tengah situasi yang semakin memanas, sejumlah tokoh dunia menyerukan penghentian konflik.
Paus Leo XIV dalam sebuah doa publik meminta agar suara bom segera berhenti dan senjata dihentikan.
Ia juga berharap ruang dialog dapat kembali dibuka sehingga konflik yang sedang berlangsung dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi.
Seruan tersebut mencerminkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap dampak perang yang terus meluas di kawasan Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters