Sudan Hadapi Wabah Kolera Terburuk: 40 Tewas Sepanjang Agustus, Perang Perparah Situasi
INDOZONE.ID - Sudan dilanda wabah kolera terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang menewaskan puluhan warga sipil di wilayah Darfur.
Peperangan berkepanjangan antara militer Sudan dan pasukan paramiliter RSF (Rapid Support Forces) membuat penyebaran wabah semakin memburuk.
Di lapangan, penanganan wabah terhambat, akses air bersih semakin terbatas, sementara fasilitas kesehatan kewalahan dalam menangani warga terinfeksi.
Setidaknya 40 warga sipil tewas sejak awal Agustus tahun ini. Sementara itu, ribuan orang lainnya terinfeksi. Kota Tawila di Darfur Utara termasuk salah satu titik terdampak paling parah.
Berjarak 70 km dari El Fasher, benteng terakhir Tentara Sudan di wilayah Darfur, kota ini menjadi menjadi lokasi kamp pengungsian terbesar warga.
“Di tengah perang besar-besaran, rakyat Sudan kini mengalami wabah kolera terburuk yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir,” bunyi pernyataan Organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) pada Kamis (14/08/2025) waktu setempat.
Hanya di wilayah Darfur saja, tim MSF telah merawat lebih dari 2.300 pasien.
Menurut WHO, kolera disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae, yang ditularkan melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
Baca juga: Gelombang Panas dan Angin Kencang Picu Kebakaran Hutan Hebat di Eropa Selatan
Warga yang terinfeksi akan mengalami gejala beruba diare parah, muntah, dan kram otot. Penyakit ini dapat membunuh dalam beberapa jam tanpa pengobatan yang tepat.
Walaupun larutan rehidrasi oral sederhana dan antibiotik dapat menyelamatkan nyawa warga yang terinfeksi, perang mengakibatkan hal tersebut cukup sukar untuk dilakukan dalam jangka waktu yang tepat.
Perang saudara yang terjadi di Sudan sejak April 2023 di Khartoum, telah menewaskan lebih dari 400 ribu orang, dan mengakibatkan 12 juta warga sipil mengungsi.
Hal ini menyebabkan terjadinya krisis kemanusiaan dan juga kelaparan di mana-mana.
Baca juga: Korea Utara Bantah Pindahkan Pengeras Suara, Tegaskan Tak Mau Perbaiki Hubungan dengan Korsel
Wabah diperparah dengan situasi yang mempercepat laju penyebaran wabah, seperti banyaknya penduduk yang berpindah secara massal, tim medis yang kewalahan dalam menangani pasien yang semakin membludak, serta curah hujan yang tinggi.
Hujan lebat memperparah penyebaran wabah dengan mencemari sumber air dan merusak sistem pembuangan limbah.
MSF juga melaporkan bahwa warga-warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat perang saudara kini kesulitan mendapatkan air bersih untuk minum, memasak dan membersihkan diri.
Sebanyak 380 ribu pengungsi di Watila, Darfur Utara, terpaksa bertahan hidup hanya dengan 3 liter air per hari. Padahal, standar minimum darurat sebanyak 7,5 liter per hari.
Baca juga: Pakistan Bentuk Pasukan Rudal Baru, Perkuat Pertahanan di Tengah Ketegangan dengan India
“Di kamp-kamp pengungsian dan pengungsi, keluarga sering kali tidak punya pilihan selain meminum air dari sumber yang terkontaminasi, dan banyak yang kemudian terjangkit kolera,” ucap Sylvain Penicaud, projek koordinator MSF di Tawila.
“Masih dua minggu yang lalu, jenazah ditemukan di sebuah sumur di salah satu kamp. Jenazah sudah dipindah, tetapi dalam dua hari, warga terpaksa harus minum air di sumber yang sama,” tambah Penicaud.
Kepala misi MSF di Sudan, Tuna Turkmen, menyebut situasi di negara tersebut sebagai situasi yang lebih dari sekadar darurat.
“Wabah ini kini menyebar jauh melampaui kamp-kamp pengungsian, ke berbagai daerah di seluruh negara bagian Darfur dan wilayah lainnya,” kata Turkmen. “Penyintas perang tidak boleh dibiarkan mati karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.” tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera