Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Anung Sugihantono, membantah virus kolera babi menular ke manusia. Dia memastikan segala info yang mengatakan virus itu menjangkit manusia adalah hoax.
Lebih dari 5.000 ekor babi mati akibat virus kolera di Sumatra Utara. Ada 12 daerah yang mengalami bencana itu, antara lain Karo, Dairi, Humbang, Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Toba, Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
"Kolera babi dan african swine fever sejauh ini tidak menularkan kepada manusia. Tidak menular dari hewan kepada manusia. Itu prinsipnya," kata Anung di kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Senin (11/11).
Kemenkes lebih fokus kepada pencemaran air tanah di area yang terjangkit kolera babi. Banyak pihak yang membuang bangkai babi di sungai, sehingga airnya terkontaminasi bakteri escherichia coli.
Ratusan bangkai babi beberapa hari terakhir ditemukan di sejumlah sungai. Salah satunya di Sungai Bedera, Medan.
Anung mengaku Kemenkes sudah melakukan komunikasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Utara, terkait adanya potensi pencemaran air tanah. Sebab, bakteri escherichia coli bisa membuat air tanah bau dan tidak enak dikonsumsi.
"Air tanah ya kalau PDAM insya Allah aman meskipun di dalam konsep air tanah ada resapan. Namun, saya minta periodik teman-teman di lapangan melakukan pengecekan meski ditemukan e. coli tidak akan menemukan kolera babinya," tutur Anung. (NS)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: