INDOZONE.ID - Setelah berhari-hari dilanda pertempuran sengit, para pejuang Druze kuasai Sweida pada Sabtu (19/7/2025), menandai berakhirnya kendali milisi bersenjata saingan yang sebelumnya menguasai sebagian wilayah kota.
Keberhasilan ini terjadi tidak lama setelah pemerintah Suriah mengumumkan gencatan senjata di Sweida yang dimediasi oleh Amerika Serikat demi mencegah eskalasi konflik dengan Israel.
Meskipun kota Sweida di bawah kendali Druze kini telah aman dari pertempuran di pusat kota, bentrokan masih berlangsung di wilayah lain dalam provinsi tersebut.
Baca juga: Israel Bombardir Suriah, Klaim Lindungi Druze di Sweida; Suriah: Ini Agresi Terang-terangan!
Konflik yang melibatkan kelompok Druze, milisi Badui, serta intervensi pasukan pemerintah ini menewaskan lebih dari 900 orang hanya dalam kurun waktu satu minggu.
Organisasi pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) melaporkan bahwa pasukan suku Badui mundur dari pusat kota pada Sabtu malam setelah serangan skala besar dilakukan oleh kelompok bersenjata Druze.
Sebelumnya, pasukan pemerintah Suriah yang sempat diterjunkan ke Sweida dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Druze.
Baca juga: Israel Serang Damaskus, Tuduh Rezim Baru Suriah Ancaman Terselubung
Serangan udara Israel pun dilancarkan ke Sweida dan Damaskus sebagai bentuk tekanan agar pemerintah menarik pasukannya dari wilayah tersebut.
Sementara itu, ratusan bangunan di kota ini dilaporkan hangus terbakar dan banyak toko dijarah sebelum dibakar oleh kelompok bersenjata.
Namun menurut pernyataan dari Bassem Fakhr, juru bicara kelompok “Men of Dignity”, tidak ada lagi keberadaan kelompok Badui di wilayah kota Sweida pada malam hari.
Amerika Serikat mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata antara Presiden sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Kesepakatan ini didukung oleh Turki dan Yordania serta bertujuan meredakan ketegangan sektarian yang memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Dalam pernyataannya, Tom Barrack sebagai utusan AS untuk Suriah menyerukan kepada seluruh pihak termasuk Druze, Badui, dan komunitas Sunni untuk menghentikan kekerasan dan bersatu membangun identitas Suriah yang damai dan inklusif.
Menyusul kesepakatan tersebut, Presiden Sharaa menyampaikan pidato di televisi, menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi semua kelompok minoritas dan mengecam tindakan kekerasan yang terjadi di Sweida. Ia juga mengapresiasi peran Amerika Serikat dalam menjaga stabilitas negara di tengah konflik.
Namun di sisi lain, Israel menanggapi dengan skeptis janji perlindungan ini, mengingat masih terjadinya kekerasan terhadap minoritas seperti Alawiyin sejak Sharaa menggulingkan Bashar al-Assad.
SOHR mencatat total korban jiwa mencakup ratusan pejuang Druze, warga sipil, anggota pasukan pemerintah, serta milisi Badui. Beberapa di antaranya dilaporkan menjadi korban eksekusi singkat.
Menteri Informasi Suriah, Hamza al-Mustafa, menyatakan bahwa tahap pertama dari gencatan senjata mencakup pengerahan pasukan keamanan.
Sementara itu, tahap kedua akan difokuskan pada pembukaan koridor kemanusiaan untuk membawa bantuan bagi ribuan warga terdampak.
Menurut PBB, setidaknya 87.000 orang telah mengungsi akibat pertempuran yang terjadi selama sepekan terakhir di Sweida.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters