INDOZONE.ID - Pemerintah Iran secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak akan melanjutkan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat, meski konflik militer terbaru dengan Israel telah berakhir.
Selain itu, Iran juga menilai bahwa serangan militer AS tidak memberikan dampak besar terhadap fasilitas nuklir mereka, meskipun Washington mengklaim sebaliknya.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menolak keras segala spekulasi terkait dimulainya kembali negosiasi dengan Amerika.
Baca juga: Ayatollah Khamenei Klaim Kemenangan Iran atas Israel Usai Gencatan Senjata
Dalam wawancara di televisi pemerintah, ia menegaskan bahwa Iran belum membuat rencana apa pun untuk memulai kembali perundingan nuklir.
“Saya ingin menyampaikan dengan jelas bahwa tidak ada kesepakatan, pengaturan, ataupun pembicaraan mengenai dimulainya negosiasi baru," ujar Araghchi, menandaskan penolakan Iran terhadap negosiasi nuklir dengan AS.
Ia menyebut kabar tersebut hanyalah spekulasi yang tidak layak dipercaya.
Baca juga: Capai Gencatan Senjata, Israel Kehabisan Amunisi Setelah 12 Hari Perang Lawan Iran
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa Washington siap berbicara dengan Teheran dalam waktu dekat, dan bahkan menyebut peluang untuk tercapainya kesepakatan damai yang menyeluruh. Namun demikian, pernyataan itu segera dibantah oleh Iran.
Di sisi lain, status pembicaraan nuklir Iran dan AS terbaru semakin tidak menentu setelah parlemen Iran mengesahkan undang-undang yang menghentikan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan global.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga turut buka suara dalam pidato publik pertamanya sejak gencatan senjata diberlakukan.
Ia menyebut bahwa serangan yang dilakukan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tidak efektif dan hanya dibesar-besarkan oleh Presiden Trump untuk kepentingan politik dalam negeri.
"Presiden Amerika sangat melebih-lebihkan situasi. Serangan itu tidak menyebabkan dampak berarti terhadap infrastruktur nuklir kami," ucap Khamenei. Ia bahkan menyebut bahwa Republik Islam Iran berhasil memberikan balasan yang setimpal kepada Amerika Serikat.
Meskipun Araghchi mengakui adanya kerusakan dan menyebutnya “serius”, ia mengatakan bahwa evaluasi teknis masih berlangsung. Namun, ia menegaskan bahwa Iran tetap tidak akan membuka kembali pintu perundingan dengan AS dalam waktu dekat.
Sementara itu, Trump mengklaim bahwa situs pengayaan uranium di Fordow telah dihancurkan total oleh pembom B-2 milik Amerika. Namun, Khamenei membantah hal tersebut dan menyatakan bahwa upaya itu gagal menunda program nuklir Iran secara signifikan.
Baik AS maupun Israel mengklaim telah memberikan pukulan besar terhadap proyek nuklir Iran, sementara Iran menganggap bahwa serangan tersebut tidak berdampak besar terhadap program nuklir mereka.
Bahkan, Menteri Pertahanan AS dan Direktur CIA memberikan pernyataan berbeda terkait efektivitas serangan.
Israel sendiri menyebut bahwa proyek nuklir Iran berhasil digagalkan, meski menyatakan bahwa evaluasi dampaknya masih berlangsung. Sebaliknya, Iran menilai bahwa mereka berhasil bertahan dan tetap pada posisi kuat.
Konflik yang berlangsung sejak pertengahan Juni itu juga menyebabkan korban jiwa. Data dari Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan sedikitnya 627 warga sipil tewas akibat serangan Israel, sementara 28 orang dilaporkan meninggal di Israel akibat serangan balasan Iran.
Dengan situasi politik yang masih memanas, Iran terus menolak untuk membuka kembali negosiasi nuklir dengan AS. Meski tekanan dari luar terus berdatangan, para pejabat Iran kompak menyuarakan bahwa mereka tidak akan tunduk terhadap tekanan Barat.
Iran bantah lanjutkan pembicaraan nuklir AS dan menilai serangan tidak berdampak besar, sementara para pemimpin seperti Khamenei dan Araghchi berdiri di garis depan menolak narasi Barat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: New York Post