Anak-anak di reruntuhan bangunan kawasan Gaza, Palestina. (REUTERS/Mahmoud Issa)
INDOZONE.ID - Alaa, seorang pengungsi Suriah asal Dataran Tinggi Golan yang kini tak memiliki rumah, sedang mencari tempat untuk meletakkan kepalanya.
Hari ini, Jumat (20/3/2026), adalah hari pertama Idul Fitri. Tapi bagi Alaa, hari raya adalah hal terakhir yang ada di pikirannya.
Sepanjang hari ia berjalan keliling Beirut, mencoba mencari tempat berlindung.
Ia dulu tinggal di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut yang kini luluh lantak dihantam serangan Israel. Seperti ribuan lainnya, ia kini hanya ingin selamat.
Baca juga: Kilang Minyak Israel Kena Rudal Iran, Infrastruktur Penting Rusak
"Saya ditolak untuk tinggal di sekolah, lalu saya tidur di pinggir pantai," cerita Alaa. "Kemudian orang dari pemerintah kota menyuruh saya datang ke sini, ke tepi laut pusat kota Beirut."
Alaa belum menemukan tenda. Untuk sementara, ia tidur di ruang terbuka.
Di sekitarnya, pusat kota Beirut yang dulu terkenal dengan restoran mewah dan bar-nya kini berubah menjadi kota tenda bagi mereka yang terusir dari rumah akibat perang.
Di seluruh Lebanon, lebih dari satu juta orang terusir.
Penduduk Lebanon bahkan tak tahu kapan perang ini akan berakhir, apalagi mereka belum pulih dari konflik sebelumnya yang berlangsung dari Oktober 2023 hingga November 2024.
Baca juga: Sempat Lontarkan Kritik karena Enggan Bantu AS, Donald Trump Sebut NATO Kini Lebih Baik
Di Iran, yang kini memasuki pekan ketiga diserang AS-Israel, krisis ekonomi yang sudah ada sebelum perang membuat warga kesulitan membeli kebutuhan Lebaran.
Bazar besar Tehran yang biasanya menjadi tujuan belanja kini rusak terkena bom. Belanja di sana pun berisiko.
Di Gaza, keinginan untuk merayakan Idul Fitri terbentur keras oleh realitas ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera