Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Leah Millis)
INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali membuat keputusan kontroversial. Ya, Trump pada Senin mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen terhadap semua negara yang masih berdagang dengan Iran.
"Berlaku serta merta, negara manapun yang masih berbisnis dengan Republik Islam Iran akan membayar tarif sebesar 25 persen terhadap semua bisnis apapun yang mereka lakukan dengan Amerika Serikat," kata Trump, seperti INDOZONE sadur dari The Guardian, Selasa (13/1/2026) .
"Keputusan ini bersifat final dan mengikat," sambungnya.
Meski demikian, masih belum ada rincian lebih lanjut soal tarif impor yang baru diumumkan ini.
Baca juga: BNBP Lakukan Modifikasi Cuaca di Jakarta Selama 5 Hari ke Depan!
Di saat Trump terus mengulang ancamannya akan menyerang Iran jika Teheran menggunakan kekuatan yang berlebihan untuk meredakan protes, pernyataan terbarunya tersebut muncul beberapa jam setelah Gedung Putih mengatakan Trump "tertarik" menjajaki diplomasi dengan Iran.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt berkata bahwa Trump "tidak takut" untuk benar-benar melakukan sesuai yang ia ancam untuk mengerahkan kekuatan militer terhadap titik-titik di Iran jika para pengunjuk rasa diserang oleh petugas keamanan.
Namun, Leavitt berkata bahwa Trump memilih langkah diplomasi terlebih dahulu dengan Iran.
"Satu hal yang amat dikuasai Presiden Trump adalah menjaga semua opsinya tetap tersedia. Ketika serangan udara menjadi satu dari banyak opsi yang ada di tangan Presiden, diplomasi tetap menjadi pilihan pertama baginya," kata Leavitt.
Baca juga: Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Negara Hadir untuk Pendidikan Anak Kurang Mampu
Menurut Jubir Gedung Putih, apa yang disampaikan otoritas Iran di depan publik "berbeda dengan pesan yang diterima pemerintah AS secara privat" dan Presiden Trump "memiliki ketertarikan untuk mendalami pesan tersebut".
"Meski demikian, Presiden berkata bahwa ia tidak takut menggunakan opsi militer jika dan ketika ia merasa diperlukan, dan tidak ada yang lebih tahu soal hal ini daripada Iran," ucap dia.
Diketahui, unjuk rasa pro-pemerintah berlangsung di sejumlah titik di Iran pada Senin, di tengah protes anti-pemerintah akibat pemburukan kondisi ekonomi yang sudah berlangsung selama 16 hari belakangan.
Menurut laporan wartawan Anadolu, para pengunjuk rasa, dengan mengibarkan bendera Iran, berkumpul di Lapangan Enghelab di dekat Universitas Teheran untuk "mengecam kekerasan" yang terjadi di tempat umum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian