INDOZONE.ID - Taiwan resmi masuk kategori super-aged society pada 2025 setelah 20,06 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas, sesuai definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Fenomena ini menempatkan Taiwan di garis depan penuaan penduduk global.
Jumlah lansia kini mencapai 4,67 juta orang dari total populasi sekitar 23 juta jiwa. Artinya, satu dari lima warga Taiwan merupakan lanjut usia, mencerminkan percepatan krisis demografi Taiwan dalam waktu relatif singkat.
Di saat jumlah lansia meningkat, populasi anak justru menurun tajam. Penduduk usia 0-14 tahun hanya mencakup 11,51 persen dari total populasi.
Baca juga: Orang Tua Terduga Pelaku Penikaman Brutal di MRT Taiwan Berlutut dan Minta Maaf
Sepanjang 2025, Taiwan mencatat angka kelahiran terendah dalam sejarah, yakni hanya 107.812 bayi.
Pada Desember 2025 saja, kelahiran turun 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka kelahiran kasar tercatat 4,56 per 1.000 penduduk, menempatkan Taiwan di jajaran negara dengan tingkat fertilitas terendah di dunia.
Para demografer menilai penurunan kelahiran dipicu oleh perubahan gaya hidup. Banyak perempuan memilih menikah di usia lebih matang, memiliki sedikit anak, atau tetap melajang.
Baca juga: Presiden Taiwan Santap Sushi Jepang sebagai Gestur Dukungan di Tengah Ketegangan dengan China
Biaya hidup yang tinggi serta keterbatasan dukungan pengasuhan anak turut memperparah situasi.
Fenomena ini tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga memicu tantangan ekonomi akibat populasi menua, termasuk kekurangan tenaga kerja dan meningkatnya belanja kesehatan.
Untuk menahan laju penurunan kelahiran, pemerintah Taiwan mengusulkan perluasan akses teknologi reproduksi berbantu, termasuk bagi perempuan lajang dan pasangan sesama jenis perempuan.
Kebijakan ini diharapkan mampu merespons krisis jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Taipei Times