Selasa, 07 APRIL 2026 • 16:51 WIB

Alasan Banyak Pasukan PBB di Lebanon

Author

Iring-iringan mobil UNIFIL di Lebanon Selatan. (REUTERS/Karamallah Daher)

INDOZONE.ID - UNIFIL merupakan akronim dari United Nations Interim Force in Lebanon. Dewan Keamanan PBB membentuk UNIFIL pada 19 Maret 1978 sebagai respons dari invasi Israel ke Lebanon.

Invasi Israel ini berawal dari banyak pengungsi Palestina masuk ke Lebanon pada 1948 karena konflik dengan pihak Tel Aviv.

Seorang tentara UNIFIL melihat melalui celah di dekat perbatasan dengan Israel, di Lebanon Selatan. (REUTERS/Ali Hashisho)

Palestine Liberation Organization (PLO) pun beroperasi di Lebanon Selatan yang berbatasan dengan Israel. Keberadaan PLO memicu serangan Israel ke Lebanon Selatan.

Pada 1978, Israel mendorong PLO menjauh dari perbatasan antara Lebanon dengan pihak Tel Aviv. UNIFIL, yang baru dibentuk, dikerahkan di sepanjang perbatasan de facto (dikenal sebagai Garis Biru).

Baca juga: Israel Perluas Serangan, Infrastruktur Lebanon Lumpuh dan Warga Terisolasi

Serangan Israel membuat PLO keluar dari Lebanon ke Tunisia pada 1982. Akan tetapi, Israel tetap di Lebanon untuk mendukung kelompok proksi lokal dalam perang saudara di negara tersebut.

Beberapa kelompok Lebanon terbentuk untuk melawan invasi Israel. Salah satunya adalah organisasi muslim Syiah yang kini dikenal sebagai Hizbullah. Kelompok ini didukung oleh Iran dengan mandat untuk mengusir Israel.

Konflik antara Hizbullah dengan Israel beberapa kali pecah. Itu membuat mandat terhadap UNIFIL disesuaikan sebanyak dua kali karena perkembangan pada 1982 dan 2000.

Pada awalnya, pembentukan UNIFIL bertujuan mengkonfirmasi penarikan Israel dari Lebanon, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, serta membantu pemerintah Lebanon dalam memulihkan otoritas efektifnya di wilayah tersebut.

Bahkan, Dewan Keamanan PBB meningkatkan peran UNIFIL di Lebanon karena krisis yang terjadi pada Juli/Agustus 2006. 

Kini, UNIFIL juga berperan dalam memantau penghentian permusuhan, mendampingi dan mendukung angkatan bersenjata Lebanon saat dikerahkan di seluruh Lebanon Selatan, dan memperluas bantuannya untuk membantu memastikan akses kemanusiaan kepada pendudukan sipil serta pemulangan pengungsi secara sukarela dan aman.

Sejak 1978, lebih dari 300 tentara dari berbagai negara meninggal dunia dalam tugas UNIFIL di Lebanon. Tak ayal, ini dikenal sebagai misi penjaga perdamaian PBB paling berbahaya.

3 TNI Meninggal Dunia di Lebanon

Kamu harus tahu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) punya perwakilan di UNIFIL, yaitu Kontingen Garuda. 

Berdasarkan data per Januari 2026, Indonesia mengirimkan 756 prajurit dalam Kontingen Garuda untuk bergabung dengan UNIFIL. Tak ayal, Indonesia jadi penyumbang personel terbanyak kedua setelah Italia (784 prajurit).

Keberadaan Kontingen Garuda dalam UNIFIL merupakan bentuk nyata dari keterlibatan Indonesia dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.

Sebanyak 3 jenazah pasukan perdamaian UNIFIL tiba di Tanah Air. (Antara Foto/Fauzan)

Sayangnya, kabar dukacita datang dari Kontingen Garuda yang tergabung di UNIFIL. Sebanyak tiga prajurit Kontingen Garuda gugur pada Maret 2026.

Para prajurit TNI yang gugur itu adalah, Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar.

Farizal gugur karena serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, Minggu 29 Maret 2026. Selang sehari, Nur Ichwan dan Zulmi meninggal dunia karena ledakan kendaraan di dekat Bani Haiyyan.

Baca juga: Indonesia Dorong PBB Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Usai Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

TNI berdukacita atas gugurnya tiga prajurit mereka di Lebanon. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menegaskan komitmen negara untuk menjamin seluruh hak dan masa depan keluarga prajurit yang gugur di Lebanon tersebut.

Agus memastikan dukungan finansial dan pendidikan bagi ahli waris dari para prajurit TNI yang gugur tersebut. Selain itu, para prajurit yang gugur, juga mendapatkan kenaikan pangkat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera, Antara, Peace Keeping

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU