Rabu, 29 OKTOBER 2025 • 08:00 WIB

Bekerja Terlalu Lama, Karyawan di Kafe Terkenal Korea Ini Tewas Pada Usia 26 Tahun

Author

Cafe London Bagel Museum di Korea Selatan. (Allkpop)

INDOZONE.ID - Suatu kabar duka mengguncang publik Korea Selatan. Seorang karyawan kafe terkenal di Korea, tewas pada usia 26 tahun.

Hal itu terjadi setelah diduga mengalami kelelahan ekstrem, akibat bekerja terlalu lama di kafe populer London Bagel Museum. 

Kasus ini langsung memicu kemarahan publik, dan membuka kembali perdebatan lama tentang budaya kerja berlebihan yang masih marak di Negeri Ginseng tersebut.

Diduga Bekerja hingga 80 Jam per Minggu

Ilustrasi pegawai cafe. (freepik)

Menurut laporan media dan pernyataan resmi dari Partai Keadilan, karyawan Korea meninggal bekerja 80 jam seminggu di cabang Incheon milik London Bagel Museum

Korban yang diidentifikasi dengan inisial A, disebut sering kali melampaui batas jam kerja maksimal 52 jam per minggu yang diatur dalam undang-undang ketenagakerjaan Korea.

Dalam beberapa minggu sebelum kematiannya, A diketahui bekerja hampir 80 jam per minggu, dengan jadwal yang sangat padat hingga larut malam. 

Baca juga: Korea Utara Tuduh Militer Korsel Lepaskan Tembakan Peringatan di Perbatasan

Partai tersebut menyebut, sehari sebelum meninggal, A mulai bekerja pukul 09.00, dan baru pulang menjelang tengah malam. Lima hari sebelumnya, ia bahkan sempat bekerja selama 21 jam tanpa henti.

Lonjakan jam kerja secara mendadak ini diduga kuat menjadi penyebab kematian pekerja London Bagel Museum. Hal itu karena jam kerja yang ekstrem, di mana kelelahan kronis dan akut berakumulasi hingga berdampak fatal pada tubuhnya.

Kontrak Kerja yang Dianggap Langgar Hukum

Selain dugaan overwork, kontrak kerja A juga menjadi sorotan. Berdasarkan hasil investigasi, kontrak tersebut mencantumkan kewajiban lembur lebih dari 14 jam per minggu, melampaui batas yang diizinkan hukum.

Pihak Partai Keadilan menuding, perusahaan melakukan praktik “kontrak terpisah” atau memperbarui kontrak jangka pendek berulang kali, agar karyawan tidak mendapatkan status pegawai tetap dan tunjangan penuh. 

Selama 14 bulan bekerja, A telah dipindahkan ke empat cabang berbeda, yakni Gangnam, Suwon, dan Incheon dengan kontrak yang diperbarui tiga kali.

Praktik semacam ini dinilai sebagai bentuk eksploitasi pekerja muda di industri kafe dan restoran Korea, yang sering menuntut loyalitas tinggi namun tak diimbangi dengan perlindungan kerja yang layak.

Baca juga: Kim Jong Un Sebut Pasukan Korea Utara di Rusia sebagai Tentara Heroik

Keluarga Korban Kesulitan Dapatkan Dokumen Jam Kerja

Setelah kematian A, keluarga korban berupaya mengajukan kompensasi kecelakaan kerja, namun pihak London Bagel Museum disebut tidak kooperatif. 

Mereka menolak memberikan dokumen resmi terkait jam kerja korban, yang dibutuhkan untuk proses hukum dan klaim asuransi tenaga kerja.

Lebih mengejutkan lagi, seorang eksekutif perusahaan dikabarkan sempat melontarkan komentar tidak pantas kepada keluarga korban.

Hal ini menambah kemarahan publik terhadap kontroversi jam kerja London Bagel Museum yang kini menjadi topik hangat di media sosial Korea Selatan.

Partai Keadilan mendesak perusahaan, agar segera menyerahkan seluruh dokumen yang diminta dan bekerja sama dengan otoritas ketenagakerjaan. 

Mereka juga meminta Kementerian Ketenagakerjaan Korea Selatan, untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan menindak tegas pihak yang terbukti lalai.

Partai Progresif Turut Mengecam

Kecaman juga datang dari Partai Progresif melalui juru bicaranya, Lee Mi Sun. Ia mengungkapkan, korban sempat melewatkan waktu makan dan bekerja lebih dari 15 jam sehari sebelum meninggal dunia.

Perusahaan tidak hanya mengabaikan kesehatan pekerja, tetapi juga menyusun kontrak yang jelas-jelas melanggar hukum,” ujar Lee.

Ia menilai, karyawan London Bagel Museum meninggal karena overwork adalah bukti nyata lemahnya pengawasan tenaga kerja di sektor F&B Korea Selatan.

Lee pun menuntut agar pemerintah melakukan investigasi menyeluruh, dan memberikan hukuman tegas kepada pihak yang bertanggung jawab.

Tanggapan dari Pihak London Bagel Museum

Pada 28 Oktober, pihak London Bagel Museum akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka membantah seluruh tuduhan dan mengklaim bahwa karyawan tersebut hanya bekerja 44 jam per minggu, bukan 80 jam seperti yang diberitakan.

Perusahaan juga menegaskan, telah menyerahkan semua dokumen yang diperlukan kepada pihak berwenang untuk keperluan investigasi kecelakaan kerja. 

Namun, banyak pihak menilai pernyataan itu belum cukup untuk menjawab berbagai bukti dan kesaksian yang sudah beredar.

Kematian yang Menggugah Kesadaran Publik

Tragedi ini menjadi simbol nyata dari tekanan kerja ekstrem yang masih menghantui banyak pekerja muda di Korea Selatan.

Istilah gwarosa atau kematian akibat kelelahan bekerja, kembali mencuat ke permukaan seiring maraknya kasus serupa di berbagai sektor.

Kasus karyawan kafe terkenal di Korea tewas pada usia 26 tahun itu, kini menjadi pengingat keras bagi publik bahwa batas antara kerja keras dan kehilangan nyawa bisa begitu tipis. 

Banyak pihak menilai, sistem ketenagakerjaan Korea perlu direformasi agar perlindungan terhadap pekerja dapat lebih manusiawi dan berkeadilan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Allkpop.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU