Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 23 JULI 2025 • 21:35 WIB

Korea Utara Bangun Kapal Perusak Baru Seberat 5.000 Ton, Ini Alasannya

Korea Utara Bangun Kapal Perusak Baru Seberat 5.000 Ton, Ini AlasannyaPemandangan upacara peluncuran kapal Kang Kon di galangan kapal Rajin, di pelabuhan dekat Rason, Korea Utara, pada 12 Juni 2025. (Yonhap News)

INDOZONE.ID -  Korea Utara kembali menunjukkan ambisinya di sektor pertahanan laut. Negara yang dikenal tertutup ini mengumumkan rencana membangun kapal perusak baru dengan bobot 5.000 ton. Kabar ini menjadi bagian dari berita militer Korea Utara terbaru yang menarik perhatian dunia internasional.

Pembangunan kapal tersebut akan menambah daftar armada tempur laut mereka, menyusul peluncuran dua kapal perusak serupa sebelumnya pada tahun ini. Langkah ini jelas menunjukkan upaya militer Korea Utara memperkuat angkatan lautnya secara signifikan.

Pemimpin tertinggi Kim Jong Un tampaknya menaruh perhatian besar pada kekuatan maritim. Ia sempat memimpin langsung peluncuran kapal perusak 5.000 ton Korea Utara pertama yang diberi nama Choe Hyon pada April lalu. 

Baca juga: Korsel Pertimbangkan Strategi Baru untuk Membaikkan Hubungan dengan Korea Utara

Menyusul kemudian, kapal Kang Kon diluncurkan pada Mei, meski sempat mengalami masalah teknis sebelum akhirnya berhasil disempurnakan dan dilayarkan kembali pada Juni.

Menurut pengamat, tidak menutup kemungkinan Pyongyang membangun kapal perang tersebut dengan dukungan teknologi dari Rusia, sebagai bagian dari kerja sama militer yang tidak diumumkan secara resmi.

Galangan kapal Nampho ditunjuk sebagai tempat utama pembangunan Choe Hyon-class Destroyer No. 3

Baca juga: Korea Utara Larang Turis Asing Masuk ke Resor Pantai Mewah Wonsan

Para pekerja di sana telah berjanji untuk menyelesaikan pembangunan kapal ini sebelum 10 Oktober 2026, yang bertepatan dengan hari jadi Partai Buruh Korea. Langkah ini dilaporkan oleh kantor berita resmi Korea Utara, KCNA.

Pembangunan kapal perusak baru ini disebut sebagai bagian penting dari strategi Pyongyang untuk menjaga kedaulatan wilayah maritim dan kepentingan nasionalnya.

Sementara itu, Presiden Korea Selatan yang baru terpilih, Lee Jae-myung, mengisyaratkan pendekatan yang lebih damai terhadap Korea Utara. Sebagai tanda meredanya ketegangan, Seoul menghentikan siaran propaganda melalui pengeras suara di perbatasan. 

Hal ini tampaknya direspons dengan tindakan serupa oleh Pyongyang yang menghentikan siaran suara anehnya ke arah Selatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Yonhap News

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Korea Utara Bangun Kapal Perusak Baru Seberat 5.000 Ton, Ini Alasannya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!