Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 12 AGUSTUS 2025 • 09:15 WIB

Korea Utara Ancam Balas dengan Tegas jika Latihan Militer AS-Korsel Dianggap Provokasi

Korea Utara Ancam Balas dengan Tegas jika Latihan Militer AS-Korsel Dianggap ProvokasiBendera Korea Utara terlihat di Jenewa, Swiss, pada 20 Juni 2017. (REUTERS/Pierre Albouy/File Foto)

INDOZONE.ID - Korea Utara mengeluarkan peringatan keras bahwa mereka akan melakukan tindakan balasan tegas jika merasa terprovokasi oleh latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan yang dijadwalkan berlangsung bulan ini. 

Ancaman Korut soal latihan militer AS-Korsel ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan No Kwang Chol melalui media pemerintah pada Senin (11/8/2025).

Latihan tahunan bertajuk Ulchi Freedom Shield akan digelar pada 18-28 Agustus. Menurut Seoul dan Washington, latihan ini bertujuan memperkuat pertahanan terhadap ancaman nuklir dari Pyongyang. 

Baca juga: Korea Utara Mulai Bongkar Pengeras Suara di Perbatasan, Korsel Masih Terus Pantau

Namun, reaksi Korea Utara pada latihan militer gabungan tersebut kembali menunjukkan sensitivitas hubungan kedua negara.

Korea Utara, yang memicu Perang Korea pada 1950, sejak lama menentang latihan militer gabungan AS-Korsel. Pyongyang menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk persiapan invasi.

Dalam pernyataan Korea Utara soal provokasi militer ini, No Kwang Chol menegaskan bahwa angkatan bersenjata negaranya siap menghadapi latihan tersebut dengan “sikap balasan yang menyeluruh dan tegas” demi mempertahankan hak membela diri.

Baca juga: Korea Utara Bangun Kapal Perusak Baru Seberat 5.000 Ton, Ini Alasannya

AS saat ini menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Korea Selatan, dan kedua negara secara rutin menggelar latihan bersama yang mereka klaim bersifat defensif.

Menariknya, ancaman keras Korea Utara pada AS-Korsel ini muncul di tengah tanda-tanda mencairnya hubungan antar-Korea. 

Kedua negara baru-baru ini mulai membongkar pengeras suara propaganda di perbatasan yang selama ini digunakan untuk menyiarkan pesan provokatif.

Langkah tersebut dilakukan setelah Presiden Lee Jae Myung, yang baru terpilih pada Juni lalu, memerintahkan pembongkaran pengeras suara di pihak Seoul.

Lee juga meminta kelompok sipil untuk menghentikan pengiriman selebaran propaganda ke Korea Utara melalui balon udara.

Hubungan kedua negara sebelumnya berada di titik terendah pada masa pemerintahan mantan Presiden Yoon Suk Yeol, yang menerapkan kebijakan keras terhadap Pyongyang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Yonhap News

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Korea Utara Ancam Balas dengan Tegas jika Latihan Militer AS-Korsel Dianggap Provokasi

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!