Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 26 MEI 2026 • 15:17 WIB

Kuliah Geopolitik: Membedah Cetak Biru Diplomasi Indonesia sebagai Arsitek Gerakan Non-Blok!

Kuliah Geopolitik: Membedah Cetak Biru Diplomasi Indonesia sebagai Arsitek Gerakan Non-Blok!llustrasi Indonesia jadi penggagas gerakan Non-Blok. (Dok. Gemini Ai)

INDOZONE.ID - Sebagai bangsa yang besar, kita sering kali lupa bahwa cetak biru perdamaian dunia pernah digagas dari sebuah ruang sidang di kota Bandung.

Hari ini, mari kita tanggalkan sejenak hiruk-pikuk politik domestik dan kembali ke ruang kelas sejarah geopolitik. Kita akan membedah salah satu warisan diplomasi terbesar yang pernah diukir oleh para pendiri bangsa kita, yakni Gerakan Non-Blok (GNB).

Bagi generasi muda, memahami GNB bukan sekadar menghafal tahun untuk ujian, melainkan tentang memahami kekuatan prinsip, keberanian moral, dan bagaimana sebuah negara yang baru merdeka mampu mendikte arah politik global tanpa perlu melepaskan satu butir peluru pun.

Baca juga: Peringati 60 Tahun Gerakan Non-Blok, Ini yang Jadi Fokus Menlu Retno

1. Fajar Konferensi Asia-Afrika 1955: Mercusuar dari Bandung

Untuk memahami GNB, kita harus kembali ke tahun 1955. Bayangkan lanskap dunia saat itu: Perang Dingin berada di titik puncaknya. 

Dunia terbelah menjadi dua kekuatan raksasa yang saling mengunci leher: Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dengan ideologi kapitalis-liberal, dan Blok Timur di bawah Uni Soviet dengan ideologi komunis.

Negara-negara kecil dipaksa memilih: menjadi pelayan Barat atau pion Timur. Di tengah impitan raksasa tersebut, Indonesia mengambil langkah berani yang mengubah jalannya sejarah.

Inisiatif Soekarno

Presiden Soekarno, bersama para pemimpin visioner Asia dan Afrika, menolak untuk tunduk pada polarisasi tersebut. 

Indonesia mengundang negara-negara yang baru merdeka untuk berkumpul dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada April 1955.

Dasasila Bandung

Pertemuan ini melahirkan Dasasila Bandung, sebuah dokumen politik monumental yang menjunjung tinggi kedaulatan, integritas wilayah, kesetaraan ras, dan penolakan terhadap intervensi asing. 

Dasasila Bandung inilah yang menjadi pondasi spiritual dan landasan filosofis utama lahirnya Gerakan Non-Blok enam tahun kemudian di Beograd (1961).

Baca juga: Menlu Retno Sebut Prinsip Dasasila Tetap Relevan untuk Gerakan Non-Blok

2. Politik Bebas-Aktif: Bukan Netralitas yang Pasif

Banyak orang salah kaprah dengan menganggap "Non-Blok" berarti netral, acuh tak acuh, atau sekadar bersembunyi di sudut aman. Di sinilah letak kebanggaan kita sebagai guru sejarah: Indonesia tidak pernah pasif.

Doktrin politik luar negeri kita adalah Bebas-Aktif—sebuah konsep jenius yang dirumuskan oleh Mohammad Hatta sejak tahun 1948.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kuliah Geopolitik: Membedah Cetak Biru Diplomasi Indonesia sebagai Arsitek Gerakan Non-Blok!

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!