INDOZONE.ID - Pihak berwenang Australia mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka akan menambah jumlah personel kepolisian dan memperketat keamanan menjelang demonstrasi pro-Palestina yang dijadwalkan di Sydney dan Melbourne pada 6 Oktober.
Mereka memperingatkan para pengunjuk rasa bahwa tindakan kekerasan tidak akan ditoleransi.
Konflik Israel-Hamas telah memicu gelombang protes dari kelompok Yahudi dan Palestina di berbagai belahan dunia, termasuk Australia.
Pemerintah Australia mengekspresikan keprihatinan bahwa demonstrasi tersebut dapat meningkatkan ketegangan sosial dan mengganggu kerukunan masyarakat.
Di Sydney, Palestine Action Group telah membatalkan rencana unjuk rasa pada 7 Oktober, yang bertepatan dengan peringatan serangan paling mematikan Hamas dalam sejarah Israel, yang memicu perang di Gaza.
Kelompok pro-Palestina akan melanjutkan aksi unjuk rasa pada Minggu (6/10/2024) setelah mencapai kesepakatan dengan pihak kepolisian untuk mengubah lokasi dan rute.
Mereka juga dilarang menggunakan bendera, gambar, atau simbol organisasi terlarang. Mereka juga merencanakan acara peringatan pada Senin (7/10/2024).
Baca Juga: Presiden Palestina Desak PBB untuk Segera Hentikan Perang di Gaza
Perdana Menteri Anthony Albanese menegaskan bahwa tanggal 7 Oktober adalah hari yang sakral dan menyatakan bahwa mayoritas warga Australia tidak ingin melihat konflik luar negeri terulang di negaranya.
"Bagi mereka yang merencanakan tindakan lain pada tanggal 7 Oktober, pikirkan apakah tujuan Anda memberikan kemajuan atau justru kemunduran," tegas Albanese dalam konferensi pers.
Perdana Menteri New South Wales Chris Minns memperingatkan bahwa mengadakan acara peringatan di Sydney sangat tidak peka.
Dia juga menegaskan bahwa akan ada respons tegas dari polisi jika acara tersebut berubah menjadi demonstrasi.
Australia telah memperketat keamanan insiden antisemitisme dan Islamofobia sejak pecahnya perang Israel-Gaza.
Pemerintah setempat juga telah mengesahkan undang-undang yang melarang pertunjukan simbol kelompok teroris di tempat umum.
Dalam demonstrasi di Melbourne akhir pekan lalu, beberapa peserta memajang bendera dengan simbol Hizbullah serta gambar pemimpin Sayyed Hassan Nasrallah.
Hal itu memicu pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan.
Hizbullah, kelompok militan Lebanon yang didukung Iran, terdaftar sebagai "organisasi teroris" di Australia.
Polisi Victoria menyatakan akan meningkatkan patroli di sekitar sinagoga di Melbourne dalam beberapa hari ke depan, serta di acara komunitas yang direncanakan di tenggara Melbourne pada hari Senin.
Baca Juga: Deepfake Pornografi di Korea Selatan Merusak Kehidupan Perempuan dan Memperburuk Ketegangan Gender
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters