Senin, 22 JUNI 2026 • 09:40 WIB

Trump Sesumbar AS Bisa Ambil Alih Selat Hormuz di Tengah Perundingan dengan Iran

Author

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (REUTERS/Elizabeth Frantz)

INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sesumbar dengan mengatakan negaranya dapat mengambil alih Selat Hormuz dan memberlakukan tarif pelayaran guna menjamin keamanan lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut.

Pernyataan itu disampaikan di tengah berlangsungnya perundingan tingkat teknis antara Iran dan AS yang dimediasi Qatar dan Pakistan di Swiss.

"Kami mungkin akan mengambil alih selat itu jika perlu," kata Trump, dikutip dari Fox News, Senin (22/6/2026).

Trump juga menyebut kemungkinan penerapan biaya lintas apabila tidak tercapai kesepakatan dengan Iran.

"Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami akan mengenakan tarif lintas," katanya.

Menurut Trump, dalam skenario tersebut AS akan mengambil 20 persen dari minyak yang diangkut melalui Selat Hormuz.

Baca juga: AS dan Iran Capai Kesepakatan Akhiri Perang, Nasib Selat Hormuz Masih Belum Jelas

Sebelumnya, pada Sabtu, Trump juga menyatakan bahwa AS dapat mengenakan biaya lintas di Selat Hormuz sebagai "imbalan atas jasa yang diberikan" dan untuk menutup biaya yang telah dikeluarkan apabila kesepakatan damai dengan Iran tidak tercapai.

Di sisi lain, Iran dan AS disebut telah menandatangani secara elektronik sebuah memorandum pada 18 Juni yang mengakhiri konflik militer yang berlangsung sejak 28 Februari.

Dokumen tersebut juga menetapkan tenggat bagi AS untuk mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan batas waktu bagi Iran untuk memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.

Sementara itu, seorang anggota tim perunding Iran, Hossein Ghorbanzadeh, mengatakan Iran dan AS telah merampungkan draf pelonggaran sementara sanksi terhadap ekspor minyak Iran dalam perundingan di Swiss.

"Pembahasan teknis tersebut berakhir dengan perampungan draf terkait pelonggaran sementara sanksi yang dikenakan terhadap ekspor minyak Iran," katanya, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim.

Baca juga: Mengenal Pulau Kharg: Keran Minyak Iran yang Pegang Kendali atas Stabilitas Harga Energi Global!

Ghorbanzadeh menjelaskan bahwa perundingan di Swiss tidak hanya membahas isu utama, tetapi juga mencakup pertemuan teknis terpisah untuk membicarakan berbagai persoalan teknis. Delegasi Iran juga disebut membahas pencairan aset Iran yang dibekukan dalam pertemuan dengan delegasi Qatar.

Menurut laporan Tasnim, Ghorbanzadeh mengatakan ketentuan lain dalam memorandum yang dicapai di Islamabad tidak akan berlaku hingga tercapai penyelesaian akhir untuk mengakhiri perang di Lebanon.

Perundingan AS-Iran dimulai pada Minggu (21/6/2026) di resor Burgenstock, Swiss, dalam kerangka Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang bertujuan membuka jalan bagi penghentian permanen perang antara AS, Israel, dan Iran.

Pada 14 Juni, Iran dan AS mengumumkan telah mencapai kesepahaman 14 poin melalui mediasi Pakistan untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan perselisihan melalui dialog serta negosiasi.

MoU tersebut mulai berlaku pada 18 Juni setelah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.

Ketentuannya mencakup penghentian permusuhan di seluruh front, termasuk di Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU