Sabtu, 20 JUNI 2026 • 21:05 WIB

Australia Temukan Kasus Pertama Flu Burung H5, Ancam Satwa Liar dan Unggas

Author

Tabung-tabung reaksi berlabel 'flu burung' terlihat dalam foto yang diambil pada 10 Juni 2024. (Reuters/Dado Ruvic)

INDOZONE.ID - Australia akhirnya mengonfirmasi temuan pertama virus flu burung H5 yang sangat menular di wilayahnya.

Penemuan ini menandai bahwa seluruh benua di dunia kini telah tersentuh penyebaran virus tersebut, yang selama beberapa tahun terakhir memicu kekhawatiran global karena dampaknya terhadap unggas, satwa liar, dan sejumlah mamalia.

Kasus Pertama Flu Burung H5 Ditemukan di Burung Migran

Pemerintah Australia mengumumkan bahwa virus H5 terdeteksi pada seekor burung laut migran jenis brown skua yang ditemukan di wilayah terpencil Australia Barat. Temuan tersebut telah dikonfirmasi oleh lembaga sains nasional setempat.

Selain itu, sampel dari seekor burung lain, giant petrel, yang ditemukan sakit di kawasan yang sama juga menunjukkan hasil yang diduga positif. Otoritas kesehatan hewan kini masih melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi tersebut.

Sebelum temuan ini, Australia menjadi satu-satunya benua yang belum pernah mencatat keberadaan strain H5, virus yang dikenal mampu menyebabkan kematian massal pada populasi unggas dan burung liar di berbagai negara.

Baca juga: Polisi Pakistan Salah Tembak, Bocah Warga Australia Tewas saat Operasi Pengejaran Perampok

Pemerintah Australia Sudah Mengantisipasi Kedatangan Virus

Menteri Pertanian Australia, Julie Collins, menyatakan bahwa masuknya virus H5 memang mengecewakan, tetapi bukan sesuatu yang tidak terduga. 

Menurutnya, penyebaran global virus tersebut selama beberapa tahun terakhir membuat Australia sadar bahwa status bebas flu burung tidak akan bertahan selamanya.

Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan tanda-tanda kematian massal satwa liar maupun kasus infeksi pada peternakan unggas domestik.

Sebagai langkah antisipasi, otoritas kesehatan hewan dan sektor pertanian telah menggelar pertemuan darurat guna menyusun respons nasional untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Baca juga: Pria Tewas Diserang Hiu di Great Barrier Reef Australia saat Memancing Ikan dengan Tombak

Perdana Menteri Soroti Ancaman Serius bagi Australia

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyebut temuan tersebut sebagai perkembangan yang perlu mendapat perhatian serius.

Ia menjelaskan bahwa virus kemungkinan masuk melalui jalur migrasi burung liar, jalur yang juga menjadi penyebab penyebaran penyakit ini di berbagai negara lain.

Pemerintah berkomitmen mengambil langkah-langkah pencegahan dan pengendalian guna membatasi penyebaran virus sebelum berdampak pada sektor peternakan maupun populasi satwa liar yang lebih luas.

Burung dan Mamalia Menjadi Kelompok Paling Rentan

Secara global, strain H5 telah menyebabkan tingkat kematian yang tinggi pada berbagai jenis unggas dan burung liar. Kelompok yang paling terdampak meliputi burung air, burung pantai, burung laut, hingga burung pemangsa.

Tak hanya menyerang burung, virus ini juga telah ditemukan pada sejumlah mamalia laut dan hewan lainnya, termasuk kucing, kambing, alpaka, serta babi.

Kondisi tersebut membuat para ilmuwan terus memantau kemungkinan mutasi maupun perluasan inang virus ke spesies lain.

Satwa Endemik Australia Berisiko Tinggi

Masuknya flu burung H5 memunculkan kekhawatiran besar terhadap kelangsungan hidup satwa khas Australia. Negara tersebut dikenal memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang unik, dengan hampir setengah spesies burung liar dan sekitar 83 persen mamalianya tidak ditemukan di tempat lain di dunia.

Komisioner Spesies Terancam Australia, Fiona Fraser, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan program perlindungan terhadap sedikitnya 35 spesies rentan melalui peningkatan upaya penangkaran.

Beberapa satwa yang dinilai menghadapi risiko tinggi antara lain setan Tasmania, angsa hitam, penguin kecil, dan singa laut Australia.

Menurut Fraser, penyebaran virus berpotensi menimbulkan dampak pada tingkat populasi dan mengancam keberlangsungan sejumlah spesies yang sudah menghadapi tekanan lingkungan sebelumnya.

Diduga Datang dari Jalur Migrasi Burung Sub-Antartika

Kasus pertama yang terkonfirmasi ditemukan di kawasan alam liar sekitar 630 kilometer tenggara Perth, Australia Barat.

Para peneliti kini menyelidiki kemungkinan virus masuk melalui burung-burung migran yang datang dari wilayah sub-Antartika. 

Dugaan ini semakin kuat setelah beberapa hari sebelumnya ilmuwan Australia melaporkan bahwa flu burung H5 telah menewaskan lebih dari 13.000 anak anjing laut gajah di Kepulauan Heard dan McDonald, wilayah terluar Australia di kawasan sub-Antartika.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh paling serius mengenai dampak virus terhadap populasi satwa liar di kawasan terpencil.

Australia Memasuki Babak Baru Pengawasan Flu Burung

Dengan terdeteksinya kasus pertama H5, Australia kini bergabung dengan daftar wilayah dunia yang harus menghadapi ancaman flu burung berpatogen tinggi. 

Walaupun belum ditemukan penyebaran pada peternakan unggas maupun kematian massal satwa liar di daratan utama, pemerintah dan para ilmuwan menegaskan pentingnya pemantauan ketat terhadap perkembangan situasi. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU