INDOZONE.ID - Perdana Menteri Australia Anthony Albanese berusaha meyakinkan warganya bahwa pasokan bahan bakar tetap aman.
Ia mneyampaikan hal itu di tengah laporan kejadian panic buying serta sejumlah stasiun pengisian bahan bakar yang kehabisan stok sejak perang Iran dimulai.
"Semakin lama perang ini berlangsung, semakin besar dampaknya. Tapi kami terus bertindak untuk mempersiapkan dan melindungi orang Australia dari dampak terburuknya," kata Albanese kepada wartawan, Jumat (27/3/2026).
Baca juga: Australia Larang Warga Iran Berkunjung, Ini Alasannya
Bahan bakar di Australia mengalami kenaikan harga tajam sejak AS dan Israel menyerang Iran serta ditutupnya Selat Hormuz yang menyebabkan harga minyak melonjak.
Harga rata-rata bensin mencapai 238 sen Australia per liter pada Minggu lalu, dibandingkan 171 sen empat minggu sebelumnya, menurut data dari Australian Institute of Petroleum.
Sementara itu, harga diesel di Sydney melonjak menjadi 314,5 sen per liter pada Kamis (26/3/2026), menurut National Roads and Motorists' Association (NRMA). Angka ini merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.
Baca juga: Trump Jadwalkan Kunjungan ke China pada Mei, Bertemu Xi Jinping Usai Penundaan akibat Perang Iran
Ratusan stasiun pengisian bahan bakar di seluruh Australia dilaporkan kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar pekan ini.
Namun, pemerintah menyatakan bahwa kelangkaan disebabkan oleh masalah permintaan dan distribusi, bukan pasokan.
Menteri Energi Chris Bowen mengatakan pasokan tetap pada tingkat yang sama seperti sebelum perang dimulai.
"Untuk beberapa minggu ke depan, pasokan bensin, diesel, dan minyak Australia akan sama, bahkan lebih tinggi dari biasanya," ujarnya.
Baca juga: Thailand Siap Pangkas Pajak Minyak di Tengah Lonjakan Harga Energi
Peter Khoury dari NRMA menjelaskan bahwa kelangkaan terjadi karena perubahan kebiasaan beli masyarakat. "Orang-orang mengisi jeriken dan menyimpannya di garasi mereka," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC