INDOZONE.ID - Rusia melancarkan serangan udara terbesar dalam dua hari terakhir sejak perang dengan Ukraina dimulai lebih dari empat tahun lalu.
Ratusan drone dan puluhan rudal menghantam ibu kota Kyiv serta sejumlah kota lain di Ukraina pada Kamis, 14 Mei 2026 waktu setempat.
Pemerintah Ukraina menyebut sedikitnya 27 warga sipil tewas akibat rentetan serangan tersebut. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan Rusia telah meluncurkan total 1.567 drone sejak Rabu.
Serangan masif itu terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan bahwa perang di Ukraina “mulai mendekati akhir”. Namun, menurut Zelenskyy, tindakan Rusia justru menunjukkan sebaliknya.
Baca juga: Rusia Klaim AS Siap Negosiasikan Penyelesaian Konflik di Ukraina
Kyiv Jadi Sasaran Utama
Dalam pernyataannya, Zelenskyy mengatakan ibu kota Kyiv menjadi target utama serangan semalam. Ukraina mencatat lebih dari 670 drone tempur dan 56 rudal ditembakkan Rusia dalam satu malam.
“Ini jelas bukan tindakan pihak yang merasa perang akan segera berakhir,” kata Zelenskyy. Ia juga meminta negara-negara sekutu tetap memberikan dukungan pertahanan udara bagi Ukraina.
Layanan Darurat Ukraina melaporkan sedikitnya 21 orang, termasuk tiga anak-anak, meninggal dunia di Kyiv. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, bahkan menetapkan hari berkabung untuk Jumat.
Petugas penyelamat masih terus bekerja tanpa henti di lokasi serangan. Rekaman dari lokasi memperlihatkan tim evakuasi menyusuri puing-puing bangunan apartemen sembilan lantai yang sebagian besar runtuh akibat hantaman rudal.
Baca juga: Indonesia Berpeluang Kirim Kosmonot ke Rusia, Ini yang Dibahas Prabowo-Putin
Rudal Kh-101 Diduga Hantam Apartemen Warga
Dalam pidato malamnya, Zelenskyy mengatakan analisis awal menunjukkan rudal jelajah Rusia jenis Kh-101 yang baru diproduksi menghantam bangunan apartemen tersebut.
Ia mendesak dunia internasional memperketat upaya diplomatik agar teknologi militer seperti itu tidak lagi sampai ke tangan Rusia.
Seorang pensiunan berusia 74 tahun bernama Alla Komisarova mengaku masih syok setelah ledakan menghancurkan kawasan tempat tinggalnya.
“Saya mendengar sesuatu melintas sangat dekat, lalu terdengar suara ledakan mengerikan. Rumah kami sampai bergetar hebat,” ujarnya sambil menahan tangis.
Infrastruktur Sipil di Berbagai Wilayah Ikut Rusak
Tidak hanya Kyiv, kerusakan juga terjadi di berbagai wilayah Ukraina. Lebih dari 1.500 petugas penyelamat diterjunkan untuk menangani dampak serangan, termasuk hampir 600 personel di Kyiv saja.
Menurut Zelenskyy, sekitar 180 fasilitas mengalami kerusakan, termasuk lebih dari 50 bangunan tempat tinggal.
Di kota terbesar kedua Ukraina, Kharkiv, sebanyak 28 orang terluka, termasuk tiga anak-anak. Gubernur wilayah Kharkiv, Oleh Syniehubov, mengatakan infrastruktur sipil menjadi sasaran serangan.
Kementerian Energi Ukraina juga menyebut pasokan listrik terganggu di 11 wilayah. Selain itu, fasilitas pelabuhan di wilayah Odesa dan jaringan kereta api turut menjadi target serangan.
Ukraina Desak Tekanan Internasional ke Rusia
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menilai serangan besar-besaran ini menunjukkan Rusia belum memiliki niat menghentikan perang meski Amerika Serikat terus mendorong proses perdamaian.
Menurutnya, tekanan internasional terhadap Moskow perlu ditingkatkan agar perang segera berakhir.
“Saya yakin para pemimpin Amerika Serikat dan China memiliki pengaruh yang cukup besar untuk menekan Putin mengakhiri perang ini,” tulisnya melalui media sosial X.
Perang Rusia-Ukraina sendiri telah berlangsung lebih dari empat tahun dan menewaskan ratusan ribu orang, sekaligus menghancurkan banyak wilayah di Ukraina. Hingga kini, upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik masih belum menunjukkan hasil signifikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters