Selasa, 07 APRIL 2026 • 12:22 WIB

Prajurit Pahlawan Nasional Australia Ditangkap atas Tuduhan Kejahatan Perang di Afghanistan

Author

Ben Roberts-Smith di Pengadilan Federal Court Sydney (AAP Image/Bianca De Marchi via REUTERS). 

INDOZONE.ID - Prajurit paling berjasa yang masih hidup di Australia, Ben Roberts-Smith, ditangkap di Bandara Sydney. 

Penangkapan ini terkait dugaan kejahatan perang yang dilakukannya di Afghanistan.

Mantan kopral Special Air Service (SAS) berusia 47 tahun itu akan menghadapi pengadilan pada Selasa (7/4/2026). Ia didakwa atas lima tuduhan pembunuhan sebagai kejahatan perang.

Roberts-Smith sendiri membantah keras semua tuduhan tersebut. Ia sebelumnya menyebut dakwaan terhadapnya sebagai "keji" dan "penuh kebencian".

Baca juga: Serangan Udara Israel ke Dekat Sekolah di Gaza Tewaskan 10 Warga Palestina

Vonis Perdata Tahun 2023 Jadi Dasar

Penangkapan ini berawal dari vonis pengadilan perdata pada tahun 2023. 

Hakim saat itu memutuskan bahwa Roberts-Smith telah membunuh beberapa warga Afghanistan yang tak bersenjata.

Pengadilan perdata tersebut merupakan pertama kalinya dalam sejarah. 

Sebab, untuk pertama kalinya pengadilan menguji klaim kejahatan perang yang dilakukan tentara Australia.

Baca juga: Irlandia Utara Beri Cuti Berbayar untuk Pasangan yang Alami Keguguran

Roberts-Smith mengajukan banding namun kalah. Ia sebelumnya berargumen bahwa pembunuhan terjadi secara sah selama pertempuran atau tidak terjadi sama sekali.

Namun hakim federal Anthony Besanko menemukan fakta berbeda. Roberts-Smith dinyatakan terlibat dalam setidaknya empat pembunuhan berdasarkan keseimbangan probabilitas.

Modus Pengondisian Prajurit Baru dan Kaki Palsu

Putusan pengadilan mengungkap detail mengerikan dari aksi Roberts-Smith. Ia dua kali memerintahkan eksekusi terhadap pria tak bersenjata untuk "membasahi" atau mengondisikan prajurit baru.

Baca juga: Pede Banget, Donald Trump Klaim Bisa Hancurkan Iran dalam Semalam

Selain itu, Roberts-Smith juga terlibat dalam kematian seorang petani yang diborgol. Korban tersebut ditendang hingga jatuh dari tebing.

Kasus lain yang mencuat adalah soal kaki palsu. Roberts-Smith disebut terlibat dalam kematian seorang pejuang Taliban yang kemudian kaki palsunya diambil sebagai piala.

Kaki palsu itu kemudian digunakan oleh pasukan sebagai wadah minum. Tindakan ini memperlihatkan pelanggaran berat terhadap etika perang.

Perjuangan Panjang 7 Tahun untuk Membersihkan Nama

Sebelum kasus ini, Roberts-Smith dianggap sebagai pahlawan nasional Australia. Ia menerima penghargaan militer tertinggi karena dianggap mengalahkan pejuang Taliban sendirian.

Baca juga: Jelang Pemilu, Hungaria Temukan Bahan Peledak di Dekat Pipa Gas Rusia

Semua berubah ketika surat kabar Nine pertama kali mempublikasikan laporan pada 2018. Roberts-Smith lalu melancarkan gugatan hukum besar-besaran untuk membersihkan namanya.

Pertarungan hukum itu berlangsung selama tujuh tahun. Biayanya mencapai jutaan dolar dan disebut beberapa pihak sebagai "persidangan abad ini" di Australia.

Namun upayanya gagal setelah pengadilan banding menguatkan vonis. Kini ia menghadapi proses pidana yang risikonya jauh lebih berat.

Baca juga: Korea Utara Jaga Jarak dengan Iran Demi Buka Peluang Dialog ke AS

Laporan Brereton dan Tantangan Investigasi

Kasus ini bermula dari Laporan Brereton pada 2020 yang monumental. Laporan itu menemukan "bukti kredibel" bahwa tentara elit Australia membunuh 39 orang secara ilegal di Afghanistan.

Laporan tersebut merekomendasikan 19 prajurit aktif maupun pensiunan untuk diselidiki. Sebuah tim khusus bernama Office of the Special Investigator (OSI) pun dibentuk.

Namun proses investigasi berjalan sangat berat. Direktur Investigasi OSI, Ross Barnett, mengakui tantangan besar yang mereka hadapi.

"Kami tidak bisa pergi ke Afghanistan. Kami tidak punya akses ke tempat kejadian perkara, tidak punya foto, tidak ada analisis percikan darah," jelas Barnett.

Baca juga: Kepala Intelijen IRGC Tewas, Ketegangan AS-Iran-Israel Kian Meningkat

Hingga saat ini, OSI baru mendakwa satu orang lain selain Roberts-Smith. Komisaris Polisi Federal Australia Krissy Barrett menegaskan bahwa pelanggaran ini hanya dilakukan segelintir kecil personel.

"Mayoritas besar ADF membuat negara kami bangga," tegas Barrett. Namun untuk Roberts-Smith, proses hukum yang sesungguhnya kini baru akan dimulai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BBC

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU