Sabtu, 04 APRIL 2026 • 12:33 WIB

Trump Bikin Kontroversi Lagi, Mau Ambil Minyak Iran dan Hasilkan Banyak Uang

Author

Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Kevin Lamarque)

INDOZONE.ID - Donald Trump mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat sedang mencari cara untuk merebut industri minyak Iran

Presiden AS itu beranggapan bahwa waktu lebih lama diperlukan untuk perang.

"Sedikit waktu lagi, kita bisa dengan mudah MEMBUKA SELAT HORMUZ, AMBIL MINYAKNYA, & HASILKAN BANYAK UANG," tulis Trump dalam unggahan media sosial, Jumat (3/4/2026).

"Ini akan menjadi 'SUMBER KEKAYAAN' bagi dunia???"

Baca juga: Kuba Bebaskan 2.010 Narapidana di Tengah Tekanan AS, Termasuk Warga Asing dan Lansia

Klaim Berulang yang Belum Terbukti

Tidak jelas bagaimana AS akan membuka Selat Hormuz, yang secara efektif diblokade Iran di awal konflik. 

Trump telah berjanji selama berminggu-minggu bahwa AS akan segera membuka selat tersebut. 

Sebulan lalu, ia mengatakan kapal angkatan laut AS akan mengawal kapal minyak melalui jalur perairan strategis itu.

Namun militer AS mengatakan "belum siap" untuk mengawal kapal yang bergerak lambat di selat sempit, di mana kapal mereka bisa menjadi sasaran mudah bagi drone dan rudal Iran.

Baca juga: Pemimpin Militer Burkina Faso: Demokrasi Membunuh, Rakyat Harus Lupakan Sistem Itu

Eskalasi Retorika: "AMBIL MINYAK"

Pernyataan Trump bahwa AS akan "mengambil" minyak Iran menandai eskalasi dalam retorikanya. 

Ia kemudian tampaknya menegaskan kembali seruannya, menulis "SIMPAN MINYAKNYA, ADA YANG MAU?"

Di bawah doktrin hukum internasional tentang Kedaulatan Permanen atas Sumber Daya Alam, yang diadopsi Majelis Umum PBB pada 1962, minyak dan mineral adalah milik negara tempat mereka berada. 

Trump terus-menerus menyerukan "pengambilan minyak" di negara-negara di mana AS terlibat militer, termasuk Irak dan Venezuela.

Baca juga: Larangan Pemerintah DIbatalkan Pengadilan Prancis, Pertemuan Muslim di Paris Tetap Digelar

Model Venezuela: Mungkin Bisa di Iran Tapi Butuh Perpanjangan Perang

Di Venezuela, sejak pasukan AS menculik Presiden Nicolas Maduro pada Januari, penerusnya, Delcy Rodriguez, telah bekerja dengan pemerintahan Trump untuk menjual minyak dalam jumlah besar.

Awal pekan ini, Trump mengatakan meniru model Venezuela di Iran mungkin dilakukan, tapi itu akan memerlukan perpanjangan perang. 

"Kita bisa saja mengambil minyak mereka. Tapi, saya tidak yakin orang-orang di negara kita memiliki kesabaran untuk melakukannya, yang sangat disayangkan."

Baca juga: Pabrik Desalinasi dan Kilang Minyak Kuwait Dihantam Rudal dan Drone, Iran dan Israel Saling Tuding

Perang Masuk Pekan Keenam, Target Awal Hanya 4-6 Pekan

Di awal konflik, pemerintahan Trump mengatakan perang akan berlangsung empat hingga enam pekan. Perang akan memasuki pekan keenam pada Sabtu (4/4/2026). 

Trump mengklaim pasukan AS telah menghancurkan kemampuan militer Iran, tapi Tehran terus memblokade Hormuz dan menembakkan rudal dan drone ke Israel serta target lain di seluruh wilayah.

Trump mengancam akan mengebom infrastruktur sipil di seluruh Iran, termasuk pembangkit listrik dan pabrik desalinasi air. 

Pada Rabu (1/4/2026), ia membagikan rekaman kehancuran sebuah jembatan sipil besar di Iran, memperingatkan serangan serupa di masa depan. 

Baca juga: Berapa Lama Perjalanan Artemis II ke Bulan? Ini Rincian Misi 10 Hari NASA

Para ahli hukum mengatakan pemboman situs sipil  dilarang di bawah hukum internasional.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyamakan serangan AS di jembatan itu dengan taktik ISIL/ISIS. 

"Kejahatan perang teroris ala DAESH/ISIS ini, bersama dengan serangan serupa pada infrastruktur kritis Iran, mengungkapkan satu kebenaran yang tak terbantahkan: tujuan akhir mereka adalah penghancuran Iran."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU