Jumat, 03 APRIL 2026 • 12:48 WIB

Perang Iran Bikin Bir dan Air Kemasan di India Makin Mahal, Industri Tertekan

Author

Ilustrasi kenaikan harga air mineral di India karena penutupan Selat Hormuz (freepik). 

INDOZONE.ID - Perang Iran yang mengganggu pengiriman global melalui Selat Hormuz mulai berdampak pada produk sehari-hari di India

Air kemasan dan bir terancam naik harga karena biaya produksi melonjak.

Bulan lalu, pemimpin pasar Bisleri menaikkan harga 11 persen. Merek lain seperti Bailley dan Clear Premium Water juga ikut menaikkan harga. 

Sebuah studi menunjukkan sekitar 15 persen rumah tangga perkotaan dan 6 persen rumah tangga pedesaan di India bergantung pada air kemasan untuk kebutuhan minum.

Baca juga: Trump Pecat Jaksa Agung AS Pam Bondi, Dianggap Gagal Rilis "Berkas Epstein"

Harga Bahan Baku Melonjak hingga 60 Persen

Vijaysinh Dubbal, presiden Asosiasi Produsen Air Kemasan Maharashtra, menjelaskan penyebab utamanya adalah melonjaknya harga minyak mentah. 

Minyak mentah digunakan untuk membuat resin pellet PET (Polyethylene Terephthalate)—butiran yang dipanaskan dan dicetak menjadi preforms, lalu dibentuk menjadi botol plastik.

"Biaya preforms telah meningkat dari 115 rupee per kg menjadi sekitar 180 rupee per kg. Ada juga kekurangan pasokan preforms," kata Dubbal. 

Sekitar 20 persen pabrik botol di negara bagian Maharashtra telah menghentikan operasi sementara.

Baca juga: Kelompok Bersenjata ADF Serang Desa di Kongo Timur, 43 Orang Tewas dan Puluhan Rumah Dibakar

Produsen Mulai Menyerap Kenaikan, Tapi Tak Bisa Bertahan Lama

Meski beberapa perusahaan telah menaikkan harga, Dubbal mengatakan banyak merek dan vendor sejauh ini menyerap kenaikan untuk melindungi konsumen. 

Harga satu liter air kemasan (sekitar 20 rupee) atau lima liter (60-70 rupee) sebagian besar masih belum berubah.

"Tapi menyerap biaya tambahan bukanlah praktik berkelanjutan bagi perusahaan. Jika keadaan memburuk, pelanggan kemungkinan akan merasakan dampaknya," ujarnya.

Ia menambahkan tekanan pasokan datang di waktu yang paling buruk. Permintaan air kemasan dan minuman ringan melonjak selama April dan Mei—bulan puncak musim panas di India.

Baca juga: Rusia Kirim Kapal Kedua ke Kuba untuk Tembus Blokade Minyak AS

Harga Botol Kaca Melonjak 20 Persen, Bir Terancam Naik

Produsen botol kaca juga terkena dampak. Asosiasi Pembuat Bir India—mewakili Heineken dan Carlsberg—melaporkan harga botol kaca melonjak sekitar 20 persen. 

Mereka telah meminta perusahaan anggota untuk mengajukan kenaikan harga bir 12-15 persen ke masing-masing negara bagian.

Konfederasi Perusahaan Minuman Beralkohol India juga telah menulis surat kepada negara bagian untuk menaikkan harga.

Gas Alam Dikurangi 20 Persen, Pabrik Kaca Pakai Minyak

Vithob Shet, CEO Vitrum Glass, menjelaskan bahwa kenaikan harga adalah akibat dari fluktuasi pasokan gas alam. 

Baca juga: NASA Siap Gelontorkan 20 Miliar Dolar Bangun Pangkalan di Bulan, Batal Bangun Stasiun Luar Angkasa

Gas alam digunakan untuk menjalankan tungku yang melelehkan pasir, soda ash, batu kapur, dan kaca daur ulang menjadi botol.

Sejak perang dimulai, India memperketat regulasi gas alam, memprioritaskan pasokan untuk penggunaan domestik. 

Pasokan gas alam telah dipotong 20 persen, menyulitkan produsen kaca menjalankan tungku. 

Beberapa perusahaan menggunakan minyak sebagai pengganti, namun biaya produksi melonjak karena harga minyak mentah tinggi.

Baca juga: UU Israel yang Permudah Vonis Mati Tahanan Palestina Disahkan, Indonesia Gusar!

Situasi Serius

Pemerintah India menekankan pasokan energi negara stabil, namun beberapa restoran telah tutup karena kekurangan gas memasak. 

Industri keramik dan pupuk juga terdampak, sementara industri penerbangan dilaporkan terpukul oleh harga bahan bakar jet yang meroket.

"Situasinya serius," kata Shet. "Barang-barang seperti air dan obat-obatan adalah komoditas esensial dan sedikit saja penurunan pasokan dapat berdampak besar."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BBC

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU