Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, saat berpidato. (REUTERS/Ronen Zvulun)
INDOZONE.ID - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya mencapai apa yang gagal dilakukan para pendahulunya: membujuk Amerika Serikat untuk bergabung dalam perang terbuka melawan musuh bebuyutan Israel, Iran.
Sejak serangan gabungan AS-Israel dimulai 28 Februari lalu, lebih dari 1.400 orang di Iran dan 1.000 orang di Lebanon tewas. Harga minyak global melonjak ke rekor tertinggi. Dan
di AS, kubu Demokrat hingga pendukung setia Donald Trump seperti Tucker Carlson dan Joe Rogan mulai bersuara lantang menentang perang.
Namun bagi Netanyahu, perang ini mungkin justru menjadi solusi atas sederet masalah yang telah menggerogoti kekuasaannya selama bertahun-tahun.
Baca juga: Perang Iran-Israel Makin Panas: Serangan Baru Saling Balas, Krisis Energi Global Menganga
Selama dua dekade, Netanyahu terus memperingatkan dunia tentang ancaman nuklir Iran. Ia bahkan pernah membawa poster ke PBB yang menggambarkan bom atom dengan tulisan "Iran" di atasnya.
Namun Israel selama ini merasa tak akan mampu menang jika berperang dengan Iran tanpa dukungan AS. Dukungan itu tak kunjung datang hingga Trump.
Kini, Netanyahu bisa mengklaim kemenangan: ia akhirnya membawa AS masuk ke dalam konflik.
Bahkan jika rezim Iran tidak runtuh, kekuatan militer Tehran dan poros perlawanannya di kawasan (termasuk Hizbullah dan rezim Assad di Suriah) telah terkikis signifikan.
Baca juga: Dari Beirut hingga Gaza, Kisah Getir Warga Timur Tengah Rayakan Idul Fitri di Tengah Kecamuk Perang
Israel, menurut narasi Netanyahu, kini menjadi hegemon yang tak terbantahkan di Timur Tengah.
Netanyahu saat ini masih menghadapi tiga dakwaan korupsi sejak 2019. Ia berpotensi dijatuhi hukuman 10 tahun penjara jika terbukti bersalah.
Selama ini, ia dituduh menggunakan konflik untuk menunda persidangan.
Kini, dengan perang yang sedang berlangsung, Netanyahu kembali memanfaatkannya. Dalam konferensi pers pertamanya setelah perang dimulai (12 hari setelahnya), ia menyebut persidangan sebagai "sirkus absurd" dan meminta Presiden Isaac Herzog untuk mengampuninya agar ia bisa fokus pada perang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera