Ilustrasi eksplorasi luar angkasa (NASA).
INDOZONE.ID - NASA mengumumkan perubahan besar dalam strategi eksplorasi bulan dan Mars.
Badan antariksa AS itu membatalkan rencana pembangunan stasiun luar angkasa di orbit bulan (Lunar Gateway) dan mengalihkan fokus ke pembangunan pangkalan di permukaan bulan dengan anggaran 20 miliar dolar AS selama tujuh tahun ke depan.
Administrator NASA Jared Isaacman memaparkan perubahan ini dalam pertemuan di Washington, DC, Selasa (24/3/2026). Ia mengatakan lembaganya akan meningkatkan misi robotik ke bulan dan meletakkan dasar untuk tenaga nuklir di permukaan bulan.
Baca juga: UU Israel yang Permudah Vonis Mati Tahanan Palestina Disahkan, Indonesia Gusar!
Pangkalan bulan yang direncanakan ini bertujuan mendukung kehadiran manusia jangka panjang di permukaan bulan.
Misi robotik diharapkan membantu mempersiapkan lokasi, menguji teknologi, dan mulai membangun infrastruktur sebelum astronaut kembali dalam beberapa tahun ke depan.
NASA juga mengungkapkan rencana meluncurkan pesawat ruang angkasa bernama Space Reactor 1 Freedom sebelum akhir 2028.
Misi ini dirancang untuk mendemonstrasikan propulsi listrik nuklir di luar angkasa dalam perjalanan menuju Mars.
Baca juga: Harga Migas Eropa Naik hingga 70%, Akibat Konflik Timur Tengah
Pesawat itu akan mengirimkan helikopter ke Planet Merah, mirip dengan helikopter uji Ingenuity yang terbang bersama rover Perseverance NASA.
Langkah ini akan membantu memindahkan teknologi propulsi nuklir dari uji laboratorium ke misi luar angkasa operasional.
Lunar Gateway—stasiun luar angkasa di orbit bulan yang dikembangkan dengan kontraktor termasuk Northrop Grumman dan mitra internasional—seharusnya menjadi basis tempat astronaut tinggal dan bekerja sebelum menuju permukaan bulan.
Kini NASA berencana mengalihkan beberapa komponen Gateway untuk digunakan di permukaan bulan.
Baca juga: Wabah Flu Burung di Belanda Ganggu Pasokan Telur, Harga Meroket
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera