INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengisyaratkan kemungkinan mengakhiri operasi militer terhadap Iran.
Isyarat ini muncul di tengah langkah pemerintahannya yang mulai melonggarkan sebagian sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Kebijakan ini diambil untuk meredam tekanan krisis pasokan energi global.
Dalam pernyataannya pada Jumat 20 Maret 2026, waktu setempat, Trump menyebut bahwa AS hampir mencapai tujuan militernya di kawasan Timur Tengah.
Ia mengatakan pemerintahannya tengah mempertimbangkan untuk “mengurangi intensitas” operasi militer yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
“Amerika Serikat sudah sangat dekat dengan pencapaian target. Kami sedang mempertimbangkan untuk mulai mengakhiri upaya militer besar ini,” tulis Trump melalui media sosialnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling kuat sejauh ini bahwa konflik yang dimulai pada 28 Februari berpotensi segera mereda.
Baca juga: Sempat Lontarkan Kritik karena Enggan Bantu AS, Donald Trump Sebut NATO Kini Lebih Baik
Serangan Iran Berlanjut, Ketegangan Meningkat
Di sisi lain, Iran justru meningkatkan serangannya. Gelombang baru drone dan rudal diluncurkan ke sejumlah wilayah, termasuk Arab Saudi dan Israel.
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengklaim negaranya telah memberikan “pukulan telak” kepada musuh-musuhnya.
Serangan juga menyasar infrastruktur energi di kawasan Teluk. Kilang minyak besar di Kuwait dilaporkan sempat terbakar akibat serangan drone, sementara fasilitas gas penting di Qatar sebelumnya juga menjadi target.
Tidak hanya itu, ketegangan meluas ke berbagai wilayah. Israel melancarkan serangan ke Beirut yang menargetkan kelompok Hezbollah, sementara Turki mengecam serangan Israel di Suriah sebagai eskalasi berbahaya.
Baca juga: Mantan Direktur FBI James Comey Dipanggil Paksa, Jadi Target Investigasi Pemerintahan Trump
Harga Minyak Melonjak, Dunia Khawatir
Konflik ini turut berdampak besar pada pasar energi global. Iran disebut-sebut menghambat jalur strategis Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Akibatnya, harga minyak melonjak tajam. Minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 3 persen hingga menyentuh US$112 per barel. Pasar saham global pun ikut tertekan karena kekhawatiran akan gangguan pasokan berkepanjangan.
AS Longgarkan Sanksi Minyak
Untuk mengurangi tekanan tersebut, pemerintah AS melalui Departemen Keuangan mengambil langkah sementara dengan melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran.
Kebijakan ini memungkinkan penjualan minyak yang sudah terlanjur dimuat ke kapal sebelum 20 Maret, dengan masa berlaku hingga 19 April. Diperkirakan sekitar 140 juta barel minyak dapat masuk ke pasar global melalui kebijakan ini.
Langkah ini diharapkan dapat menambah pasokan energi dunia sekaligus menstabilkan harga yang sempat melonjak.
Donald Trump: Kami Sudah Menang
Meski membuka peluang meredakan konflik, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak tertarik pada gencatan senjata.
“Saya rasa kita sudah menang. anda tidak melakukan gencatan senjata ketika sedang menghancurkan pihak lawan,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Putih.
Ia juga menekankan bahwa pengamanan Selat Hormuz seharusnya menjadi tanggung jawab negara-negara lain yang bergantung pada jalur tersebut, bukan semata-mata Amerika Serikat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com