Sabtu, 14 MARET 2026 • 09:45 WIB

Konflik Memanas, AS Gempur Pulau Kharg dan Siapkan Pengawalan Tanker di Selat Hormuz

Author

Gambar satelit menunjukkan terminal minyak di Pulau Kharg, Iran, pada 25 Februari 2026. (Planet Labs PBC/Handout melalui Reuters)

INDOZONE.ID - Konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar terhadap target militer Iran di Pulau Kharg. 

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa serangan tersebut berhasil menghancurkan sejumlah sasaran militer penting di pulau yang menjadi pusat ekspor minyak Iran.

Dalam pernyataannya pada Jumat (14/3), Trump mengatakan bahwa operasi tersebut termasuk salah satu serangan pengeboman paling kuat yang pernah terjadi di kawasan Timur Tengah. 

Ia juga mengungkapkan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat akan segera mulai mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia.

Di sisi lain, pemerintah Iran menunjukkan sikap menantang. Beberapa pejabat tinggi Iran terlihat menghadiri aksi pro-pemerintah di Teheran bersama para demonstran yang membawa spanduk bernada anti-Amerika dan anti-Israel.

Baca juga: Ancaman Donald Trump: AS Serang Fasilitas Minyak Iran jika Selat Hormuz Ditutup

Serangan di Pusat Ekspor Minyak Iran

Pulau Kharg merupakan salah satu lokasi paling penting bagi industri energi Iran. Pulau ini menampung terminal minyak utama yang menangani sebagian besar ekspor minyak mentah negara tersebut.

Dalam unggahannya di media sosial, Trump menyebut bahwa target militer di pulau tersebut telah “dihancurkan sepenuhnya”. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat untuk sementara tidak menyerang infrastruktur minyak yang ada di sana.

Namun, Trump juga memberikan peringatan keras kepada Iran terkait keamanan jalur pelayaran internasional.

Menurutnya, jika Iran atau pihak lain mencoba mengganggu kebebasan pelayaran melalui Selat Hormuz, maka Amerika Serikat tidak akan ragu untuk mempertimbangkan serangan lanjutan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut yang sangat vital karena sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia dan gas alam cair melewati kawasan tersebut setiap hari.

Baca juga: Cathay Pacific Naikkan Biaya Bahan Bakar Penerbangan Hampir Dua Kali Lipat Akibat Perang Iran

AS Siapkan Pengawalan Kapal Tanker

Meningkatnya ketegangan militer membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hampir berhenti. Serangan drone dan rudal yang diluncurkan Iran dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran serius bagi kapal-kapal komersial.

Menanggapi kondisi tersebut, Trump mengatakan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat akan segera mengawal kapal tanker yang melintas di kawasan itu.

Langkah ini diambil untuk memastikan jalur perdagangan energi global tetap aman dan terbuka.

Marinir AS Dikerahkan ke Kawasan Konflik

Di tengah meningkatnya ketegangan, laporan dari sejumlah media Amerika menyebutkan bahwa Pentagon telah mengirim kapal serbu amfibi USS Tripoli ke wilayah Timur Tengah.

Kapal tersebut membawa sekitar 2.500 personel marinir Amerika Serikat yang siap diterjunkan jika situasi semakin memburuk.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel diketahui relatif berhati-hati dalam melakukan operasi militer yang berkaitan dengan Pulau Kharg. Namun kini opsi untuk merebut pulau tersebut dilaporkan mulai dipertimbangkan oleh pejabat militer AS.

Serangan dan Ledakan di Berbagai Wilayah

Pada Jumat malam, ledakan besar terdengar di Teheran setelah Amerika Serikat berjanji akan meningkatkan intensitas serangan udara terhadap Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa gelombang baru rudal telah diluncurkan menuju Israel. Meski demikian, tim penyelamat Israel mengatakan tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.

Ketegangan juga terasa di negara-negara Teluk. Ledakan dilaporkan terdengar di Doha pada Sabtu dini hari.

Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal yang mengarah ke wilayah negara tersebut.

Sementara itu, Arab Saudi mengatakan telah menembak jatuh puluhan drone yang masuk ke wilayahnya. Turki juga melaporkan bahwa pasukan NATO berhasil mencegat sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari Iran.

Situasi Politik Iran Semakin Tidak Stabil

Di tengah perang yang semakin meluas, Iran juga menghadapi dinamika politik internal yang kompleks. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada awal operasi militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.

Setelah kematiannya, putranya, Mojtaba Khamenei, disebut sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Namun hingga kini ia belum terlihat di hadapan publik dan dilaporkan mengalami luka.

Pemerintah Amerika Serikat bahkan menawarkan hadiah sebesar 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi mengenai keberadaan Mojtaba Khamenei.

Harga Minyak Dunia Melonjak

Perang yang terus berlangsung telah mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah mengalami lonjakan tajam karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.

Harga minyak Brent dilaporkan melonjak lebih dari 42 persen sejak konflik meningkat. Pada perdagangan terakhir, harga minyak masih berada di atas 100 dolar AS per barel.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran baru bagi banyak negara karena dapat memicu inflasi dan krisis energi.

Krisis Kemanusiaan di dalam Negeri Iran

Selain dampak ekonomi, perang juga menimbulkan krisis kemanusiaan di Iran. Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan sekitar 3,2 juta orang telah mengungsi di dalam negeri sejak konflik dimulai.

Kementerian Kesehatan Iran sebelumnya melaporkan bahwa lebih dari 1.200 orang tewas akibat perang, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Banyak warga Iran juga menghadapi kesulitan mendapatkan makanan, obat-obatan, dan uang tunai karena kondisi ekonomi yang memburuk.

Seorang warga di kota Kermanshah, Iran barat, mengatakan bahwa ribuan orang dari Teheran datang ke wilayahnya untuk mencari perlindungan dari serangan udara. Hal ini menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak hampir dua kali lipat.

Di sisi lain, militer Amerika Serikat melaporkan bahwa 13 personelnya tewas sejak konflik dimulai, termasuk enam awak pesawat pengisian bahan bakar yang jatuh di Irak akibat insiden yang tidak berkaitan dengan serangan musuh.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU