Selasa, 03 MARET 2026 • 08:03 WIB

Iran Bersumpah Balas Dendam atas Tewasnya Pemimpin Tertinggi Meski Diancam Trump

Author

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi militer AS-Israel. (WANA/Handout via REUTERS)

INDOZONE.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. 

Pemerintah Iran langsung merespons dengan sumpah balas dendam dan meluncurkan gelombang serangan baru ke sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menggunakan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Ia bahkan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih kekuasaan dari rezim Ledakan dan Ketegangan di Berbagai yang berkuasa.

Baca juga: Ali Khamenei Tewas, Begini Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran

Ledakan dan Ketegangan di Berbagai Kota

Ilustrasi perang nuklir yang akan terjadi di Perang Dunia III. (Freepik/stwul)

Di Teheran, ribuan warga turun ke jalan. Suara ledakan kembali terdengar di ibu kota Iran itu, sementara militer Israel menyatakan tengah menyerang sejumlah target strategis di pusat kota. 

Pada waktu hampir bersamaan, laporan mengenai dentuman keras juga muncul dari Yerusalem, Riyadh, Dubai, Doha, dan Manama.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai “deklarasi perang terhadap umat Islam”. 

Ia menegaskan bahwa Iran memiliki hak dan kewajiban untuk membalas para pelaku serta pihak yang dianggap sebagai dalang di balik serangan tersebut.

Baca juga: Donald Trump Tegaskan AS akan Serang Iran hingga Empat Pekan ke Depan

Pernyataan keras juga disampaikan oleh Ali Larijani, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. 

Ia mengatakan bahwa Iran akan memberikan “pelajaran tak terlupakan” kepada apa yang disebutnya sebagai penindas internasional

Dalam unggahan di media sosial yang meniru gaya retorika Trump, Larijani menulis bahwa Iran sebelumnya telah menembakkan rudal ke Amerika Serikat dan Israel, dan serangan itu berdampak nyata. 

Ia memperingatkan bahwa gelombang berikutnya akan jauh lebih dahsyat.

Kekuatan Tanpa Presiden

Sehari sebelumnya, sebagian warga Iran sempat bersorak ketika beredar laporan awal mengenai wafatnya Khamenei. 

Namun setelah media pemerintah mengonfirmasi kematiannya, demonstrasi pro-pemerintah segera bermunculan. Massa meneriakkan slogan “Matilah Amerika!” dan menuntut pembalasan segera.

Militer Iran kemudian mengumumkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta di wilayah Kurdistan Irak. 

Menanggapi hal itu, Trump memperingatkan bahwa Washington siap mengerahkan kekuatan yang belum pernah disaksikan sebelumnya jika Iran terus melakukan eskalasi.

Serangan balasan pertama Iran pada Sabtu menyasar hampir seluruh negara Teluk, kecuali Oman yang sebelumnya berupaya menjadi mediator dalam pembicaraan AS-Iran. 

Namun pada Minggu, pelabuhan komersial Duqm di Oman dilaporkan terkena dua drone, melukai seorang pekerja asing. 

Sebuah kapal tanker di lepas pantai Oman juga dilaporkan terdampak.

Dampak Meluas ke Negara Tetangga

Gelombang kemarahan atas serangan AS dan Israel yang menewaskan Khamenei yang berusia 86 tahun serta sejumlah pejabat tinggi lainnya, meluas hingga ke Irak dan Pakistan. 

Di kedua negara itu, massa mencoba menyerbu misi diplomatik Amerika Serikat. Di Karachi, Pakistan, sedikitnya delapan orang tewas dalam demonstrasi pro-Iran di sekitar konsulat AS. 

Laporan dari layanan penyelamat setempat menyebut sebagian besar korban mengalami luka tembak.

Sementara itu di Iran, Bulan Sabit Merah melaporkan sedikitnya 201 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan. 

Otoritas kehakiman Iran juga mengonfirmasi bahwa Ali Shamkhani, penasihat utama Khamenei, serta Kepala Garda Revolusi Iran, Jenderal Mohammad Pakpour, termasuk di antara korban tewas.

Iran membalas dengan meluncurkan rentetan rudal dan drone ke berbagai titik di Timur Tengah. 

Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas di Abu Dhabi dan satu orang di Tel Aviv sebelum gelombang serangan berikutnya kembali dilancarkan setelah kematian Khamenei diumumkan secara resmi.

Teka-Teki Suksesi Kepemimpinan

Sejak beberapa tahun terakhir, isu suksesi kepemimpinan di Iran memang sudah menjadi bahan spekulasi, mengingat usia Khamenei yang lanjut. 

Dengan wafatnya pemimpin tertinggi tersebut, perhatian kini tertuju pada siapa yang akan menggantikannya.

Televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa Presiden Pezeshkian bersama dua pejabat tinggi lainnya akan memimpin negara dalam masa transisi. 

Namun banyak pengamat memperkirakan Garda Revolusi akan memegang peran yang lebih dominan dalam struktur kekuasaan baru, mengingat pengaruhnya yang kuat dalam politik dan ekonomi Iran.

Di sisi lain, Reza Pahlavi, putra mendiang shah yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, menyatakan bahwa setiap penerus dari sistem yang sama tidak memiliki legitimasi. 

Ia menyebut kematian Khamenei sebagai awal dari berakhirnya Republik Islam Iran.

Reza Pahlavi, yang selama ini tinggal di pengasingan dekat Washington, mengklaim dirinya sebagai figur transisi menuju demokrasi sekuler. 

Meski demikian, dukungan terhadapnya di kalangan oposisi Iran masih terpecah.

Korban Sipil dan Tuduhan Serangan ke Sekolah

Otoritas kehakiman Iran juga menyatakan bahwa salah satu serangan pada Sabtu menghantam sebuah sekolah di wilayah selatan dan menewaskan 108 orang. 

Namun hingga kini belum ada verifikasi independen terkait jumlah korban maupun detail insiden tersebut.

Dengan meningkatnya korban sipil dan meluasnya konflik lintas negara, situasi kawasan kini berada dalam kondisi sangat genting. 

Ancaman eskalasi terbuka antara Iran dan Amerika Serikat, dengan keterlibatan Israel, berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam konflik yang lebih besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU