INDOZONE.ID - Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memastikan Majelis Ahli akan segera memulai proses pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran untuk menggantikan Ali Khamenei yang gugur.
“Menurut Pasal 111 Konstitusi Iran, dalam hal kematian pemimpin tertinggi, Majelis Ahli harus memilih pemimpin tertinggi yang baru secepatnya,” kata Larijani, sebagaimana disiarkan televisi nasional Iran, Sabtu waktu setempat atau Minggu (1/3/2026) WIB.
Ia menyampaikan Majelis Ahli akan bersidang pada Minggu dan proses pemilihan resmi dimulai hari itu.
Konfirmasi tersebut muncul setelah televisi nasional Iran mengumumkan bahwa Ali Khamenei tewas akibat serangan rudal Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Baca juga: Analis Nilai Serangan Trump ke Iran Lebih Untungkan Netanyahu, Bukan AS
Serangan tersebut menyasar sejumlah lokasi di Iran, termasuk ibu kota Teheran, dan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Transisi Dinilai Tetap Stabil
Akademisi dan pengamat Timur Tengah Universitas Padjadjaran Dina Sulaeman menilai transisi kepemimpinan di Iran diperkirakan tetap berjalan stabil.
Menurut dia, sistem ideologis dan institusional Republik Islam Iran yang telah berjalan lebih dari empat dekade memiliki struktur kekuasaan berlapis dan tidak bergantung pada satu figur semata.
“Pengalaman wafatnya Imam Ruhollah Khomeini pada 1989 menunjukkan bahwa transisi bisa berjalan tanpa mengguncang fondasi negara,” kata Dina dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
Baca juga: Ali Khamenei Tewas, Ini 5 Calon Kuat Penggantinya
Ia menambahkan Iran bukanlah “rezim personalistik” yang hanya bertumpu pada satu tokoh, melainkan memiliki mekanisme konstitusional yang jelas dalam suksesi kepemimpinan.
Dina menjelaskan, sesuai sistem yang berlaku, Majelis Ahli yang terdiri atas ulama dan ahli agama dari seluruh provinsi Iran, bertugas memilih Pemimpin Tertinggi baru ketika terjadi kekosongan jabatan.
Adapun sosok yang dapat dipilih harus merupakan ulama bergelar Ayatullah, gelar tertinggi dalam keilmuan agama di Iran, serta memiliki integritas dan kapasitas kepemimpinan yang teruji.
“Iran punya banyak Ayatullah,” ujarnya.
Dengan dimulainya sidang Majelis Ahli, proses suksesi resmi kepemimpinan tertinggi Iran kini memasuki tahap konstitusional di tengah situasi keamanan kawasan yang masih memanas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: