Jumat, 13 FEBRUARI 2026 • 17:35 WIB

Cina Resmi Masuk Klub Negara Energi Bersih, AS Justru Balik Arah ke Fosil

Author

Pemandangan umum gedung-gedung tinggi di wilayah Chongqing (China Daily)

INDOZONE.ID - Cina mencetak sejarah di 2025. Untuk pertama kalinya, kapasitas pembangkit listrik energi bersih Negeri Tirai Bambu melampaui pembangkit fosil. 

Sebuah pencapaian yang menempatkan Cina satu meja dengan Brasil, Prancis, dan Jerman sebagai ekonomi utama yang mayoritas listriknya berasal dari sumber ramah lingkungan.

Data Global Energy Monitor menunjukkan Cina mengoperasikan 1.494 gigawatt kapasitas energi bersih pada 2025, unggul 73 GW dari kapasitas fosil yang sebesar 1.420 GW. 

Artinya, 51 persen armada pembangkit Cina kini ditenagai sumber bersih.

Baca juga: Intelijen Korea Selatan: Kim Jong Un Tunjuk Putrinya yang Masih 13 Tahun Sebagai Penerus Takhta

Solar Jadi Bintang, Batu Bara Merosot

Lonjakan 1.554 persen kapasitas tenaga surya sejak 2015 menjadi kunci transformasi ini. 

Pangsa pembangkit surya melesat dari hanya 2,4 persen di 2015 menjadi 18,3 persen tahun lalu. 

Alhasil, porsi batu bara dalam bauran energi Cina terkikis drastis: dari 64 persen di 2015 ke rekor terendah 42,7 persen pada 2025.

Solar kini bertengger sebagai sumber listrik terbesar kedua Cina, persis di bawah batu bara. 

Dengan produksi komponen surya domestik yang melimpah, tren ini diprediksi terus berlanjut. 

Belum lagi keunggulan Cina di sektor baterai yang akan membantu menyimpan kelebihan listrik surya untuk digunakan saat permintaan puncak.

Baca juga: AS Kerahkan Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah, Sinyal Keras Agar Iran Segera Capai Kesepakatan

AS Justru Gasifikasi

Jalan Cina bertolak belakang 180 derajat dengan Amerika Serikat. Negeri Paman Sam justru masih bertumpu pada fosil. 

Data GEM mencatat AS memiliki selisih 233 GW lebih banyak kapasitas fosil dibanding energi bersih di 2025—terbesar dibanding negara mana pun.

Di bawah pemerintahan Trump, insentif federal untuk energi terbarukan dipangkas. Alih-alih, gas alam justru disokong. 

Jumlah pembangkit gas baru yang tengah dibangun di AS meningkat dua kali lipat dari tahun lalu, sementara yang dalam tahap pra-konstruksi melonjak lima kali lipat. 

Alhasil, pangsa energi bersih yang sempat menyentuh rekor 41 persen di 2025 terancam tergerus.

Baca juga: AS Ingin Wajah Baru NATO: Jadi Kemitraan Setara, Tanpa Ketergantungan pada Amerika

Fosil versus Masa Depan

Divergensi dua raksasa ekonomi ini mencerminkan visi energi yang berseberangan. Cina memacu efisiensi dan penyimpanan demi sistem listrik yang lebih hijau. 

AS, dengan gelar produsen dan eksportir gas alam terbesar dunia, tampak nyaman di jalur energy dominance ala Trump.

Namun para pengamat memperingatkan, keberlanjutan sistem kelistrikan abad ini akan berpihak pada negara yang serius membangun infrastruktur bersih. 

Dalam perlombaan itu, Cina tak lagi sekadar mengejar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU