Jumat, 21 NOVEMBER 2025 • 15:02 WIB

Pemilik Restoran Jepang di China Resah karena Ketegangan Diplomatik Memanas

Author

Seorang pria berjalan melewati deretan poster iklan makanan di area pusat perbelanjaan yang dipenuhi beberapa restoran Jepang, di Shanghai, China, 18 November 2025. (Reuters/Go Nakamura)

INDOZONE.ID - Para pemilik restoran Jepang di China resah menyusul kembali memanasnya hubungan diplomatik antara Beijing dan Tokyo. 

Takashi Ito, salah satu pemilik restoran di Shanghai, mengaku sempat berharap bisnisnya pulih setelah China mulai melonggarkan larangan impor seafood Jepang

Namun harapan itu kembali pupus ketika ketegangan politik meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga:  491 Ribu Tiket Penerbangan ke Jepang Dibatalkan setelah China Imbau Warganya Hindari Bepergian

Situasi ini menunjukkan dampak ketegangan China-Jepang pada bisnis kuliner, terutama bagi pelaku F&B Jepang yang selama ini bergantung pada impor bahan baku laut dari negaranya. 

Serangkaian kebijakan balasan dari Beijing, termasuk pelarangan wisata ke Jepang dan ancaman langkah tegas lainnya, membuat pelaku usaha semakin tertekan.

Ketegangan terbaru dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menyebut serangan China ke Taiwan jika dinilai mengancam kelangsungan hidup Jepang dapat memicu respons militer. 

Baca juga: Ekspor Seafood Jepang Terancam Rugi di Tengah Memanasnya Hubungan dengan China

Beijing bereaksi keras, kembali memberlakukan larangan impor produk laut Jepang serta membatalkan sejumlah agenda budaya dan pertemuan antarnegara.

Ito mengatakan bahwa setiap gejolak diplomatik selalu menjadi pukulan besar bagi usahanya.

Ketika hubungan China dan Jepang bergetar, kami yang pertama merasakan dampaknya. Sangat menyakitkan,” kata Ito.

Pada Rabu (19/11/2025), beberapa pelanggan membatalkan reservasi tanpa alasan jelas. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa pemilik restoran Jepang di China terancam kehilangan stabilitas bisnis jika ketegangan semakin memburuk. 

Selama ini, pelanggan lokal China menyumbang sekitar separuh reservasi restoran Ito.

Beijing sebenarnya baru saja melonggarkan larangan yang diberlakukan akibat keputusan Jepang dua tahun lalu untuk membuang air limbah yang telah diolah dari PLTN Fukushima. 

Meski Ito berupaya mencari bahan baku lokal, beberapa jenis ikan hanya bisa didapat dari Jepang, membuat operasionalnya terkendala.

Situasi kali ini termasuk yang paling berat. Saya tidak berharap ada kabar baik soal impor dalam waktu dekat,” ujarnya.

Ia berharap diplomat kedua negara bisa meredakan ketegangan sehingga masyarakat China dan Jepang kembali bisa menikmati kuliner tanpa perlu terbebani isu politik.

Ketegangan ini mendapat tanggapan keras dari diplomat China di Jepang dan liputan tajam media pemerintah China terhadap Takaichi. 

Pemerintah Jepang bahkan memperingatkan warganya di China agar lebih waspada dan menghindari tempat ramai.

Namun di lapangan, pelaku bisnis F&B Jepang di China seperti Kazuaki Sone, pemilik restoran yakitori Hyakumanben mengatakan ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. 

Sone yang telah tinggal di China sejak 2012 mengaku bahwa persahabatan di tingkat masyarakat tetap terjaga meski hubungan antarnegara panas.

Saya sudah mengalami beberapa kali ketegangan diplomatik, tapi orang-orang tetap memperlakukan saya dengan baik. Itu yang membuat saya bisa terus bekerja di sini,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: The Japan Times

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU