INDOZONE.ID - Militer Myanmar kembali melakukan langkah keras terhadap sindikat kejahatan siber, dengan menggerebek sebuah markas penipuan online di wilayah perbatasan.
Dalam operasi besar yang dilakukan pada Rabu (19/11/2025), aparat berhasil melakukan penangkapan lebih dari 300 orang terkait penipuan online di Myanmar.
Itu menjadi sebuah angka yang menegaskan masifnya jaringan kejahatan digital di kawasan tersebut.
Operasi ini menjadi bagian dari upaya terbaru junta dalam membersihkan zona abu-abu di wilayah konflik, yang selama beberapa tahun menjadi tempat berkembangnya kompleks perjudian dan pusat kejahatan siber.
Para pelaku memanfaatkan area itu sebagai basis untuk menyasar korban melalui, romance scam, investasi palsu, hingga penipuan bisnis.
Menurut laporan The Global New Light of Myanmar, operasi dilakukan di kawasan Shwe Kokko yang dikenal sebagai salah satu markas scam online di Myanmar, dengan aktivitas lintas negara.
Pasukan militer menyisir lokasi sejak Selasa pagi.
Baca juga: 20 WNI Berhasil Kabur dari Lokasi Judi Online di Myanmar, KBRI Pastikan Kondisi Aman
“Sebanyak 346 warga negara asing sedang dalam pemeriksaan dan telah diamankan,” demikian keterangan resmi media pemerintah.
Selain itu, hampir 10 ribu ponsel yang menjadi alat operasi penipuan online disita sebagai barang bukti.
Penggerebekan ini menunjukkan, bagaimana militer Myanmar gerebek markas penipuan online dengan skala besar dan strategi yang lebih agresif dibandingkan sebelumnya.
Sejak kudeta 2021 memicu konflik bersenjata, wilayah perbatasan Myanmar-China yang minim pengawasan, berubah menjadi pusat penipuan online di perbatasan Myanmar-China.
Ribuan pekerja, baik yang direkrut secara sukarela maupun korban perdagangan manusia, dijadikan operator dalam berbagai skema penipuan digital bernilai miliaran dolar.
Tekanan dari Tiongkok semakin kuat, karena banyak warganya yang turut menjadi korban atau terlibat dalam operasi gelap tersebut.
Myanmar menuduh, kelompok bersenjata oposisi melindungi pusat-pusat penipuan itu. Meski kini, mereka mengklaim dapat mengambil alih wilayah yang digunakan untuk aktivitas tersebut.
Salah satu nama yang kembali disorot adalah She Zhijiang, warga Tiongkok-Kamboja yang diduga kuat berada di balik jaringan perjudian dan penipuan online.
Perusahaannya, Yatai, sudah lebih dulu masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Inggris karena dianggap mengubah kawasan perbatasan menjadi kota perjudian penuh aktivitas kriminal.
Pada Oktober lalu, militer juga menggerebek pusat kejahatan digital lain di KK Park. Hingga saat ini, lebih dari 600 bangunan ilegal di lokasi tersebut sedang dibongkar.
Penggerebekan yang dilakukan sejak awal tahun, disebut sebagai kampanye besar-besaran untuk menekan praktik penipuan online di Myanmar.
Sekitar 7.000 orang yang diduga pelaku telah dipulangkan ke negara asalnya. Thailand bahkan menerapkan pemblokiran internet lintas batas untuk memutus akses para pelaku.
Menurut laporan PBB, kerugian korban penipuan di Asia Tenggara dan Asia Timur mencapai US$37 miliar pada 2023, dan angka sebenarnya diyakini jauh lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Washington Post